Gelombang Korea Tembus US$19 Miliar di 2025, Musik Jadi Motor Ekspor
Baca dalam 60 detik
- Ekspor yang digerakkan Korean Wave mencapai US$18,98 miliar pada 2025, tumbuh 15,9% dari tahun sebelumnya.
- Sektor musik mencatat lonjakan 84% menjadi US$3,1 miliar, didorong film Netflix dan personalisasi berbasis AI.
- Indonesia termasuk negara dengan rating citra Korea tertinggi, menandakan potensi pasar yang besar bagi produk K-content dan K-beauty.

Gelombang budaya Korea atau hallyu kembali membuktikan daya ekonominya: pada 2025, ekspor yang dipicu fenomena ini mencapai US$18,98 miliar, naik 15,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka tersebut dirilis dalam laporan bertajuk Study On The Hallyu Ecosystem oleh Korean Foundation for International Cultural Exchange dan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan pada 6 Juli lalu.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sektor musik menjadi bintang utama dengan pertumbuhan ekspor sebesar 84 persen menjadi US$3,1 miliar. Sementara itu, ekspor konten siaran (broadcasting) juga meningkat 29,7 persen menjadi US$1,6 miliar. Meski demikian, game masih menjadi kategori terbesar dengan nilai US$7,83 miliar meskipun mengalami penurunan 8 persen. Secara keseluruhan, ekspor konten tumbuh 14,2 persen.
Pendorong utama pertumbuhan ini adalah film Netflix KPop Demon Hunters yang meraih sukses besar, serta layanan personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memperkuat basis penggemar global. Dampaknya tidak hanya terasa di sektor konten, tetapi juga merembet ke produk konsumen seperti makanan dan kecantikan Korea, serta pariwisata.
Survei yang melibatkan 27.400 konsumen berusia 15–59 tahun di 30 negara menunjukkan bahwa citra Korea Selatan meningkat tipis menjadi 3,8 dari skala 5, dibanding 3,7 pada 2024. Menariknya, responden dari Indonesia, India, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Mesir memberikan nilai rata-rata 4,0—tertinggi di antara negara lain. Sebaliknya, Jepang (3,1), China (3,4), Taiwan (3,5), dan Italia (3,5) memberi nilai lebih rendah.
Bagi Indonesia, angka ini menegaskan posisi sebagai salah satu pasar paling potensial bagi produk budaya Korea. Tingginya apresiasi terhadap citra Korea membuka peluang bagi pelaku industri lokal untuk menjalin kerja sama, baik dalam distribusi konten maupun lisensi produk K-beauty dan K-food. Selain itu, pola konsumsi yang didominasi perempuan remaja hingga dewasa muda—yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk konten—menjadi target utama pemasaran.
Laporan juga mencatat bahwa meskipun perempuan di usia 10–30 tahun mendominasi dalam hal keragaman dan durasi konsumsi, laki-laki di usia 20–30 tahun justru mengeluarkan pengeluaran bulanan lebih besar—pola yang konsisten sejak 2024. Analisis ini tidak memasukkan belanja produk kecantikan, namun mencakup pengeluaran untuk game.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah momentum ini dapat bertahan di tengah persaingan konten global yang semakin ketat, terutama dari China dan Jepang. Dengan investasi AI dan kolaborasi internasional yang terus digencarkan, Korea Selatan tampaknya belum berniat melambat. Namun, bagi Indonesia, peluang untuk menjadi mitra strategis dalam rantai nilai hallyu—baik sebagai pasar maupun produsen konten—semakin terbuka lebar.



