Dana Pensiun Malaysia Lepas 12 Rumah Sakit di Inggris ke Blue Owl Capital Rp27 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Blue Owl Capital mengakuisisi 12 rumah sakit Spire di Inggris dari EPF Malaysia senilai £1,3 miliar.
- Transaksi ini menandai tren investasi global pada aset kesehatan dengan sewa jangka panjang yang terindeks inflasi.
- Bagi Indonesia, langkah EPF menjadi sinyal diversifikasi investasi dana pensiun ke sektor properti kesehatan di luar negeri.

Blue Owl Capital, perusahaan investasi alternatif asal Amerika Serikat, resmi mengakuisisi portofolio 12 rumah sakit swasta di Inggris dari Kumpulan Wang Simpanan Pekerja (KWSP) Malaysia—yang dikenal sebagai Employees Provident Fund (EPF)—dengan nilai transaksi mencapai £1,3 miliar atau setara sekitar Rp27 triliun.
Kesepakatan ini mencakup rumah sakit-rumah sakit yang berada di bawah jaringan Spire Healthcare, salah satu operator rumah sakit swasta terbesar di Inggris. Aset-aset tersebut sebelumnya dikelola oleh Moor Park Capital Partners, yang akan tetap dipertahankan sebagai manajer aset pasca-akuisisi. Transaksi dilakukan melalui European Net Lease Fund milik Blue Owl, yang telah mengumpulkan dana sekitar €1,3 miliar hingga saat ini.
Langkah EPF melepas aset properti kesehatan di Inggris ini bukan tanpa alasan. Sejak era suku bunga rendah berakhir, pasar properti komersial global mengalami penurunan signifikan. Namun, properti dengan kontrak sewa jangka panjang yang terindeks inflasi justru menjadi primadona baru bagi investor yang ingin melindungi nilai portofolio dari tekanan inflasi. Sektor properti kesehatan, khususnya, menarik minat karena penyewa yang kredibel—seperti penyedia layanan kesehatan dengan dukungan pemerintah atau semi-pemerintah—memberikan stabilitas pendapatan.
Fenomena serupa juga terlihat di Inggris, di mana Primary Health Properties Plc baru saja mengakuisisi saingannya Assura dalam salah satu transaksi properti terbesar tahun lalu, dan kini dikabarkan tengah menjual sebagian saham portofolio rumah sakit senilai £700 juta kepada Singapore GIC Pte. Lonjakan penggunaan layanan kesehatan swasta di Inggris—didorong oleh daftar tunggu pasien National Health Service (NHS) yang membengkak pascapandemi—turut mendorong minat investor terhadap aset rumah sakit.
Bagi Indonesia, transaksi ini memberikan gambaran menarik tentang strategi diversifikasi dana pensiun. EPF Malaysia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pengelola dana pensiun terbesar di Asia Tenggara, memilih melepas aset di luar negeri untuk mengoptimalkan imbal hasil di tengah ketidakpastian pasar. Langkah serupa mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi BPJS Ketenagakerjaan atau PT Taspen (Persero) dalam mengelola portofolio investasi mereka, terutama di sektor properti kesehatan yang dinilai memiliki prospek stabil dalam jangka panjang.
Ke depan, tren investasi pada aset kesehatan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan permintaan layanan kesehatan global. Pertanyaannya, apakah investor Indonesia akan mengikuti jejak EPF dengan berinvestasi di sektor serupa, atau justru memanfaatkan momentum ini untuk menarik investasi asing ke dalam negeri?



