Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Terkerek
Baca dalam 60 detik
- Serangan AS ke Iran memicu kenaikan harga minyak Brent 2% ke US$75,60 per barel, meski masih jauh di bawah puncak perang sebelumnya.
- Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sebulan, mencerminkan kekhawatiran inflasi akibat eskalasi geopolitik.
- Cadangan minyak strategis AS menyentuh titik terendah sejak 1983, meningkatkan kerentanan pasar terhadap guncangan pasokan di tengah konflik.

Harga minyak mentah dunia melonjak dan pasar obligasi terguncang setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sasaran militer Iran, mengancam gencatan senjata yang baru disepakati sebulan lalu. Brent crude futures naik 2% ke US$75,60 per barel pada perdagangan Rabu (8/7), level yang meski masih jauh dari puncak perang di atas US$120, cukup untuk mengguncang sentimen investor dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi.
Serangan AS menargetkan sistem pertahanan udara, radar pesisir, dan lokasi peluncuran drone, menurut seorang pejabat AS yang dikutip Reuters. Langkah ini merupakan ujian terbaru bagi kerangka perdamaian yang ditengahi bulan lalu. Iran merespons dengan ancaman "balasan yang menghancurkan" melalui pernyataan komando militernya. Washington juga menarik izin yang sebelumnya diberikan kepada Iran untuk menjual minyak di pasar global, sebuah langkah yang dinilai Teheran melanggar kesepakatan.
"Pasar jelas tidak menyukai serangan ini, tapi belum sampai pada mode panik penuh," ujar Jason Wong, ahli strategi senior di BNZ Wellington. Namun, data menunjukkan stok minyak di Cadangan Strategis AS (SPR) pekan ini mencapai level terendah sejak 1983, membuat pasar semakin rentan terhadap gangguan pasokan di masa depan. "Ketika kita pikir risiko geopolitik sudah bisa diabaikan, kita diingatkan bahwa kesepakatan damai ini masih sangat dalam proses," kata David Chao, ahli strategi pasar global Asia-Pasifik di Invesco Singapura.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat mendorong euro kembali ke kisaran US$1,14 dan menembus level 162 yen, meningkatkan risiko intervensi dari otoritas Jepang. Dolar Selandia Baru naik tipis 0,5% setelah Reserve Bank of New Zealand menaikkan suku bunga, sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, bursa Asia bergerak mixed; indeks MSCI Asia ex-Japan flat berkat kenaikan di Hong Kong, namun bursa Korea Selatan yang sarat saham semikonduktor ambles 1,5%.
Kekhawatiran juga melanda sektor teknologi setelah saham Samsung Electronics anjlok 7% meski perusahaan melaporkan lonjakan laba 19 kali lipat. Reaksi negatif pasar terhadap hasil gemilang Samsung ini menular ke global, mendorong indeks semikonduktor Philadelphia turun 4,6%. "Profit taking jangka pendek pada pemenang jangka panjang, terutama tema AI, tampaknya menjadi dinamika global," kata Sara Perring, Kepala Penjualan Ekuitas Tunai APAC JP Morgan. Ia menambahkan bahwa volatilitas tinggi dan aksi jual asing di Korea diperkirakan berlanjut dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi global berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor energi. Pemerintah perlu mewaspadai dampak inflasi dari kenaikan harga komoditas, terutama jika konflik berkepanjangan mengerek harga minyak lebih tinggi. Pertanyaan besarnya, akankah eskalasi ini menggagalkan upaya perdamaian dan memicu gelombang baru volatilitas pasar yang berujung pada perlambatan ekonomi global?



