Danantara Resmikan Proyek PSEL Bali Rp3 Triliun, Target Serap 500.000 Ton Sampah per Tahun
Baca dalam 60 detik
- BPI Danantara meresmikan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Denpasar, Bali, dengan nilai investasi Rp3 triliun.
- Proyek ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun, setara 40% timbunan sampah Bali, serta menghasilkan listrik untuk 100.000 rumah.
- Fasilitas ini diharapkan beroperasi pada semester I 2028, menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau dan mengurangi emisi karbon 640.000 ton CO2 per tahun.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi memulai pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar, Bali, dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun. Proyek yang masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN) andalan Presiden Prabowo Subianto ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun, atau sekitar 40% dari total timbunan sampah di Pulau Dewata.
Chief Executive Officer BPI Danantara, Rosan Roeslani, menekankan bahwa persoalan sampah merupakan tantangan bersama yang harus segera diatasi. Menurutnya, proyek ini tidak hanya bertujuan menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan dampak positif pada lingkungan, kesehatan, keselamatan, serta tata kelola yang baik. "Tanpa kolaborasi dan sinergi dari pemerintah pusat, daerah, Danantara, dan pihak lain, hal positif ini tidak akan berjalan dengan baik dan cepat," ujarnya dalam seremoni peresmian, Rabu (8/7/2026).
Teknologi yang digunakan dalam PSEL Bali telah teruji di 50 negara dan mampu mengolah berbagai jenis sampah, baik sampah baru maupun lama. Rosan mencontohkan pengalaman di China, di mana fasilitas serupa terletak di kawasan pemukiman elit tanpa menimbulkan bau, bahkan dilengkapi taman bacaan dan rekreasi. Ia berharap Indonesia dapat meniru kebersihan lingkungan seperti di China dan Jepang melalui proyek ini.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, memaparkan bahwa proses pemilihan mitra proyek dilakukan secara ketat dan profesional. Dari enam konsorsium yang mengajukan proposal, hanya dua yang lolos evaluasi dan melanjutkan negosiasi. Proses seleksi melibatkan lebih dari 60 tenaga ahli dari berbagai latar belakang, termasuk yang memiliki pengalaman di proyek PSEL internasional di Thailand, Australia, Malaysia, Kuwait, China, Irlandia, dan Jerman. "Keterlibatan tim ahli independen menunjukkan proses pemilihan mitra terverifikasi dan profesional, didukung keahlian teknis, hukum, finansial, dan lingkungan," jelas Pandu.
Dari sisi lingkungan, PSEL Bali diproyeksikan menurunkan emisi sampah dari tempat pembuangan akhir hingga 80% dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton CO2 per tahun. Energi hijau yang dihasilkan diperkirakan mampu menyuplai kebutuhan listrik sekitar 100.000 rumah masyarakat Bali. Selain itu, proyek ini diperkirakan menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau dan mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga 80%.
Bagi Indonesia, proyek ini menjadi uji coba model pengelolaan sampah terpadu yang dapat direplikasi di daerah lain. Keberhasilan PSEL Bali tidak hanya akan mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang investasi di sektor energi terbarukan dan pengelolaan limbah. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat proyek serupa dapat diadopsi di kota-kota besar lain yang juga menghadapi darurat sampah.



