Serangan AS ke Iran Kembali Panaskan Harga Minyak, Kekhawatiran Suplai Menguat
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI melonjak nyaris 2% setelah AS melancarkan serangan udara ke Iran dan mencabut izin ekspor minyak Iran, memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
- Serangan balasan AS dipicu oleh insiden penyerangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz, jalur vital pengangkutan minyak Timur Tengah yang kini kembali menjadi titik rawan konflik.
- Jika ketegangan berlanjut dan lalu lintas di Selat Hormuz turun di bawah 50% level sebelum perang, pasokan minyak dunia bisa tertekan dan harga berpotensi terus merangkak naik.

Harga minyak mentah dunia melesat nyaris dua persen pada Rabu (8/7) setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran dan kembali memberlakukan sanksi penjualan minyak mentah negara itu. Langkah ini membuyarkan harapan pasar bahwa gencatan senjata yang baru terjalin akan bertahan, serta memicu kekhawatiran baru akan terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa serangan tersebut merupakan respons atas aksi Iran yang menyerang tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur air strategis yang menjadi urat nadi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Setiap gangguan di titik ini langsung berdampak pada fluktuasi harga energi dunia.
Brent crude futures tercatat naik 1,38 dolar AS atau 1,9 persen menjadi 75,54 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,37 dolar AS atau 1,9 persen ke level 71,81 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, kedua acuan harga ini sudah melonjak sekitar tiga persen setelah AS mencabut izin umum yang memungkinkan penjualan minyak Iran.
Saul Kavonic, kepala riset di MST Marquee, menilai bahwa eskalasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya lalu lintas di Selat Hormuz. “Situasi ini menjadi indikator kontras terhadap sentimen pasar yang sebelumnya mengira pasokan akan melimpah. Ini bisa membuat sebagian posisi short (taruhan harga turun) yang memecahkan rekor terpaksa ditutup,” ujarnya. Kavonic menambahkan, jika ketegangan berlanjut dan volume kapal yang melintas tetap di bawah 50 persen dari level sebelum perang, kelangkaan pasokan akan mendorong harga minyak lebih tinggi.
Sebelumnya, setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata bulan lalu, harga minyak ambruk kembali ke level sebelum perang. Para pedagang pun membanjiri pasar dengan posisi short, bertaruh bahwa harga akan terus turun seiring ekspektasi gelombang pasokan minyak Timur Tengah yang sempat tertahan akan segera mengalir. Namun, serangan terbaru membalikkan ekspektasi tersebut.
Iran tidak mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal itu, tetapi Qatar menuding Iran terlibat, termasuk dalam insiden yang menimpa kapal tanker LNG milik Qatar yang dilaporkan terkena serangan drone hingga menyebabkan kebakaran di ruang mesin. Sementara itu, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi, yang diduga merupakan supertanker Wedyan, juga dilaporkan rusak di perairan Oman. Penyebabnya belum diketahui pasti.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar di dalam negeri. Kenaikan harga minyak mentah dapat memperlebar beban subsidi BBM dan listrik, serta memicu tekanan inflasi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini sebagai sinyal untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga energi domestik.
Sejak konflik pecah pada Februari, berbagai negara telah menguras cadangan strategis mereka untuk menutupi kekurangan pasokan. Data terbaru dari American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS kembali menurun pekan lalu, mengindikasikan bahwa permintaan tetap kuat di tengah ketidakpastian pasokan. Para analis yang disurvei Reuters memperkirakan penurunan sekitar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata yang rapuh ini benar-benar akan runtuh, atau apakah kedua belah pihak masih memiliki ruang untuk meredakan ketegangan. Jika Selat Hormuz kembali menjadi medan konflik terbuka, bukan hanya harga minyak yang akan terpengaruh, tetapi seluruh rantai pasok energi global—dan Indonesia—harus bersiap menghadapi gelombang kejut berikutnya.



