Pendapatan Sepak Bola Eropa Tembus Rp 700 Triliun, Pertumbuhan Mulai Melambat
Baca dalam 60 detik
- Total pendapatan sepak bola Eropa mencapai 40,2 miliar euro pada musim 2024-2025, pertama kalinya menembus angka 40 miliar euro, namun laju pertumbuhan mulai terhambat.
- Lima liga besar Eropa menyumbang 21,6 miliar euro, dengan Premier League masih memimpin, tetapi kerugian sebelum pajak klub-klub Inggris melonjak drastis akibat belanja transfer besar-besaran.
- Deloitte memperingatkan bahwa penambahan jadwal pertandingan tanpa strategi berkelanjutan hanya akan menguntungkan jangka pendek, sementara regulasi baru di Inggris diharapkan memperbaiki tata kelola keuangan klub.

Industri sepak bola Eropa untuk pertama kalinya mencatatkan pendapatan di atas 40 miliar euro atau setara lebih dari Rp 700 triliun pada musim 2024-2025, namun sinyal perlambatan mulai terlihat. Laporan tahunan Deloitte yang dirilis Selasa (8/7) mengungkapkan bahwa total pendapatan mencapai 40,2 miliar euro, naik dari 38 miliar euro pada musim sebelumnya. Meski angka ini mencetak rekor baru, para analis memperingatkan bahwa model pertumbuhan yang mengandalkan penambahan jumlah pertandingan mulai menunjukkan kelemahan.
Lima liga teratas Eropa—Premier League, Bundesliga, LaLiga, Serie A, dan Ligue 1—menyumbang 21,6 miliar euro dari total pendapatan tersebut. Premier League tetap menjadi yang tertinggi dengan pendapatan klub mencapai 6,8 miliar poundsterling (sekitar 9,1 miliar dolar AS), naik 8 persen. Deloitte bahkan memproyeksikan liga Inggris akan menembus 7 miliar poundsterling pada musim 2025-2026. Namun, di balik pendapatan yang mengilap, kerugian sebelum pajak klub-klub Premier League justru melonjak dari 135 juta poundsterling menjadi 948 juta poundsterling. Lonjakan ini dipicu oleh belanja transfer yang agresif dan minimnya keuntungan dari penjualan pemain yang sebelumnya menjadi bantalan keuangan.
Fenomena serupa juga terjadi di liga-liga lain. Bundesliga berhasil menembus 4 miliar euro untuk pertama kalinya dengan pertumbuhan 12 persen, sementara LaLiga mencatat 4,1 miliar euro—dengan Real Madrid dan Barcelona mendominasi lebih dari separuh pendapatan klub. Serie A hanya tumbuh 4 persen menjadi 3 miliar euro, sedangkan Ligue 1 justru merosot 15 persen menjadi 2,2 miliar euro akibat penurunan pendapatan komersial. Di Inggris, divisi Championship mengalami penurunan pendapatan pertama sejak pandemi Covid-19, dengan agregat turun 2 persen menjadi 942 juta poundsterling dan kerugian sebelum pajak naik 12 persen menjadi 355 juta poundsterling. Hanya tiga klub yang berhasil mencetak laba.
Tim Bridge, mitra utama Deloitte Sports Business Group, menilai bahwa ekspansi kompetisi UEFA dan FIFA memang memberikan manfaat finansial, tetapi sepak bola tidak bisa terus-menerus mengandalkan penambahan konten untuk pertumbuhan berkelanjutan. "Pasar yang semakin jenuh tidak baik bagi pemain maupun penggemar, terutama jika melemahkan kualitas pertandingan," ujarnya. Bridge menambahkan bahwa pendekatan tanpa kesadaran kolektif dari seluruh pemangku kepentingan berisiko mengutamakan keuntungan jangka pendek di atas kemakmuran jangka panjang.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Inggris telah membentuk Regulator Sepak Bola Independen melalui Undang-Undang Tata Kelola Sepak Bola untuk memperkuat keberlanjutan finansial, tata kelola, dan pengawasan kepemilikan klub profesional. Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi liga-liga lain, termasuk di Indonesia, yang tengah berupaya memperbaiki tata kelola klub sepak bola. Sementara itu, Women's Super League justru menunjukkan pertumbuhan pesat dengan pendapatan naik 39 persen menjadi 90 juta poundsterling, menandai musim kedua berturut-turut di mana seluruh 12 klub mencatat pendapatan di atas 1 juta poundsterling. Namun, kesenjangan pendapatan antara klub terkaya dan termiskin melebar dari 13 kali menjadi 16 kali lipat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah sepak bola Eropa mampu menemukan keseimbangan antara pertumbuhan komersial dan keberlanjutan, atau justru terjebak dalam siklus pengeluaran yang tidak sehat. Dengan regulasi baru yang mulai diterapkan di Inggris, tekanan untuk mengadopsi model bisnis yang lebih prudent akan semakin kuat. Bagi Indonesia, pelajaran dari laporan Deloitte ini bisa menjadi bahan evaluasi dalam mengelola liga domestik agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.



