Trump dan Erdogan Bertemu di Ankara: KTT NATO Dibayangi Sengketa Dana Pertahanan dan Perang Iran
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump tiba di Ankara untuk KTT NATO dua hari, dengan agenda utama tekanan pada anggota Eropa untuk menaikkan belanja pertahanan.
- Hubungan Trump dengan Presiden Turki Erdogan yang hangat kontras dengan ketegangan bersama sekutu Eropa, terutama soal kritik terhadap perang di Iran.
- KTT ini menjadi ujian bagi kohesi aliansi di tengah tuntutan Trump yang kerap dianggap mengancam solidaritas NATO.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendarat di Ankara, Selasa (16/7), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung dua hari. Agenda yang sarat muatan politik ini berpotensi dibayangi oleh perbedaan pandangan soal belanja pertahanan dan perang di Iran.
Trump turun dari Air Force Oneโpesawat yang merupakan hadiah dari Qatarโdi Pangkalan Udara Etimesgut, disambut langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Keduanya tampak akrab saat berjalan di atas karpet biru yang digelar khusus, dengan Erdogan beberapa kali merangkul lengan Trump. Momen tersebut kontras dengan ketegangan yang melatari KTT, di mana Trump selama ini getol menekan negara-negara anggota NATO untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 2% dari PDB.
KTT kali ini juga diwarnai oleh kemarahan Trump terhadap kritik sejumlah sekutu Eropa atas operasi militer AS di Iran. Trump menilai dukungan yang diberikan kepada operasi yang diluncurkan bersama Israel itu tidak sepadan. Sikap ini mempertegas jurang pemisah antara Washington dan sekutu lamanya di Eropa, yang selama ini kerap berselisih soal kebijakan luar negeri dan keamanan regional.
Bagi Indonesia, dinamika KTT NATO ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas keamanan global, termasuk di kawasan Timur Tengah. Eskalasi konflik AS-Iran berpotensi mengganggu pasokan energi dan harga minyak dunia, yang berdampak langsung pada perekonomian nasional. Selain itu, ketegangan di NATO juga dapat mengalihkan perhatian dan sumber daya dari isu-isu strategis lain seperti keamanan maritim di Indo-Pasifik.
Menurut analis hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Rifai, "KTT ini menunjukkan bahwa aliansi tradisional Barat sedang menghadapi tekanan internal yang serius. Tuntutan Trump yang unilateral bisa memicu fragmentasi NATO, dan hal ini akan mengubah peta kekuatan global. Indonesia perlu mencermati perubahan ini karena akan mempengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan."
Pertanyaan besarnya, apakah KTT Ankara akan mampu menjembatani perbedaan atau justru memperlebar celah? Dengan gaya diplomasi Trump yang tidak konvensional dan tekanan dari sekutu Eropa, hasil pertemuan ini akan menentukan arah aliansi NATO dalam menghadapi tantangan keamanan kontemporer.



