Olimpiade Musim Dingin 2030 Hapus Nordic Combined, IOC Buka Peluang Kembali
Baca dalam 60 detik
- Nordic Combined resmi dihapus dari Olimpiade Musim Dingin 2030, mengakhiri keikutsertaannya sejak 1924.
- IOC beralasan minimnya jumlah atlet dan rendahnya minat publik, sementara dua cabang baru ditambahkan.
- Edisi 2030 di Alpen Prancis akan menjadi yang pertama dengan komposisi atlet 50% perempuan.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengumumkan bahwa Nordic Combined, cabang olahraga yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Olimpiade Musim Dingin sejak edisi perdana tahun 1924, resmi tidak diikutsertakan dalam program Olimpiade 2030. Keputusan ini menjadikan Olimpiade Musim Dingin 2030 sebagai edisi pertama yang tidak menampilkan olahraga tersebut, yang selama ini hanya diikuti oleh atlet pria.
Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (22/4), IOC menyebut dua alasan utama di balik keputusan ini: jumlah peserta yang terbatas dan kurangnya minat publik. Nordic Combined, yang menggabungkan lompat ski dan ski lintas alam, dinilai tidak lagi relevan dengan tren olahraga musim dingin modern. Presiden IOC Kirsty Coventry mengakui bahwa keputusan ini "mungkin mengecewakan" bagi para penggemar, namun membuka peluang bagi cabang ini untuk kembali di edisi 2034 jika ada perkembangan positif.
Sebagai gantinya, IOC menambahkan dua cabang olahraga baru: Freeride, yang memadukan disiplin ski dan seluncur salju, serta Synchro9 yang lebih dikenal sebagai figure skating. Langkah ini diambil untuk menarik minat generasi muda dan memperluas daya tarik Olimpiade Musim Dingin. Freeride, khususnya, dianggap sebagai representasi olahraga ekstrem yang tengah naik daun di kalangan milenial.
Keputusan ini juga menandai tonggak sejarah baru: Olimpiade Musim Dingin 2030 yang akan digelar di Alpen Prancis menjadi edisi pertama dengan komposisi atlet 50% perempuan. IOC meningkatkan kuota partisipasi di empat cabangโLuge, Ski, Bobsleigh, dan Hoki Esโhingga tujuh persen untuk mencapai keseimbangan gender. Langkah ini sejalan dengan komitmen IOC terhadap kesetaraan gender yang telah digaungkan sejak beberapa tahun terakhir.
Bagi Indonesia, meskipun tidak memiliki tradisi kuat di olahraga musim dingin, keputusan ini memberikan pelajaran tentang pentingnya adaptasi dan inovasi dalam penyelenggaraan event olahraga global. Dengan semakin beragamnya cabang yang ditawarkan, Olimpiade Musim Dingin berpotensi menarik minat negara tropis untuk berpartisipasi, terutama melalui cabang seperti figure skating yang lebih mudah diakses. Ke depannya, IOC perlu terus mengevaluasi relevansi setiap cabang agar Olimpiade tetap menarik bagi penonton global, termasuk dari Asia Tenggara.
Meski Nordic Combined harus angkat kaki untuk sementara, IOC menegaskan bahwa pintu belum tertutup sepenuhnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah olahraga klasik ini mampu beradaptasi dan merebut kembali tempatnya di panggung Olimpiade, atau justru akan tenggelam oleh gelombang modernisasi?



