Kyle Lowry Pensiun setelah Kembali ke Toronto Raptors Sehari: Akhir Perjalanan Sang Juara
Baca dalam 60 detik
- Kyle Lowry resmi mengakhiri karier NBA-nya pada usia 40 tahun setelah menandatangani kontrak satu hari dengan Toronto Raptors, tim yang membawanya meraih gelar juara 2019.
- Lowry, enam kali All-Star, memilih pensiun sebagai Raptor sebagai bentuk penghormatan atas perannya dalam sejarah franchise tersebut.
- Selain pensiun, Lowry dan istrinya bergabung dalam kepemilikan tim WNBA Toronto Tempo, menandai babak baru di luar lapangan.

Kyle Lowry, mantan juara NBA yang namanya identik dengan kebangkitan Toronto Raptors, resmi menggantung sepatu pada usia 40 tahun setelah menandatangani kontrak satu hari dengan tim lamanya itu. Langkah simbolis ini menjadi penutup sempurna bagi karier sang point guard yang telah membawa Raptors meraih gelar juara NBA 2019.
Lowry, yang menghabiskan sembilan musim terbaiknya di Toronto, memutuskan untuk pensiun sebagai Raptor setelah sempat membela Philadelphia 76ers sejak 2024. Dalam pernyataan emosionalnya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga, rekan setim, pelatih, dan terutama para penggemar. "Saya pensiun sebagai Toronto Raptor. Terima kasih, Toronto. Terima kasih, Kanada," ujarnya.
Perjalanan Lowry di NBA dimulai dari Memphis Grizzlies, lalu Houston Rockets, sebelum akhirnya bersinar di Toronto. Ia terpilih dalam All-Star Game sebanyak enam kali selama berseragam Raptors dan menjadi motor permainan tim yang mengubah budaya basket di Kanada. Setelah meninggalkan Toronto pada 2021, ia bermain untuk Miami Heat dan kemudian pulang kampung ke Philadelphia, tempat ia menghabiskan sebagian besar tiga musim terakhirnya sambil merintis karier sebagai analis televisi.
Keputusan Lowry untuk pensiun sebagai Raptor bukan sekadar nostalgia. Ia ingin menegaskan bahwa Toronto adalah rumah basketnya. Langkah ini juga mengingatkan pada tradisi NBA di mana pemain legendaris memilih pensiun bersama tim yang membesarkan nama mereka. Bagi Raptors, Lowry adalah ikon yang membawa tim pertama kali ke puncak NBA dan menginspirasi generasi baru pemain basket di Kanada.
Di luar lapangan, Lowry dan istrinya, Ayahna, telah bergabung dalam kelompok kepemilikan tim WNBA Toronto Tempo. Ini menjadi investasi strategis dalam perkembangan basket wanita di Kanada. "Kami adalah keluarga basket dan telah mendukung WNBA sejak awal. Ini adalah momen lingkaran penuh," kata pasangan itu dalam pernyataan bersama. Langkah ini menunjukkan komitmen Lowry untuk terus berkontribusi pada olahraga basket, kali ini di sisi bisnis dan pengembangan.
Bagi penggemar basket di Indonesia, pensiunnya Lowry menandai berakhirnya era seorang point guard tangguh yang dikenal dengan permainan fisik, visi lapangan, dan kepemimpinan. Meski tidak setenar LeBron James atau Stephen Curry, Lowry adalah bukti bahwa kerja keras dan loyalitas bisa membawa hasil manis. Kehadirannya di Toronto Tempo juga bisa menjadi inspirasi bagi para pemain dan pengusaha basket di Asia untuk melihat peluang di liga wanita.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Lowry melanjutkan karier di front office atau tetap di dunia penyiaran? Atau justru fokus mengembangkan Toronto Tempo menjadi kekuatan baru di WNBA? Yang jelas, jejak Lowry di NBA tidak akan terlupakan, terutama oleh kota Toronto yang kini harus mencari ikon baru untuk meneruskan warisannya.



