Skandal Keuangan Bari: Keluarga De Laurentiis Bantah Tuduhan Penggelapan
Baca dalam 60 detik
- Kejaksaan Bari menggeledah kantor klub dan perusahaan keluarga De Laurentiis terkait dugaan penggelapan dan kebangkrutan fiktif.
- Kerugian operasional Bari mencapai โฌ30 juta antara 2019-2025, dengan transaksi mencurigakan seperti transfer Elia Caprile.
- Keluarga De Laurentiis yakin proses hukum akan dibatalkan, mengklaim semua transaksi telah dinilai oleh pihak independen.

Keluarga De Laurentiis, pemilik klub Serie A Napoli dan Serie C Bari, membantah keras tuduhan penggelapan dan kebangkrutan fiktif yang dilayangkan kejaksaan Bari. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa malam, mereka menyatakan 'terkejut' dengan penyelidikan yang berujung pada penggeledahan kantor klub dan perusahaan Filmauro.
Penyelidikan bermula dari pemeriksaan laporan keuangan Bari yang menunjukkan kerugian operasional sekitar โฌ30 juta antara 2019 hingga 2025. Jaksa penuntut menilai klub mengalami defisit modal besar dan paparan utang tanpa rencana restrukturisasi yang kredibel. Situasi finansial yang buruk ini diduga diperparah oleh serangkaian transaksi mencurigakan, termasuk transfer kiper Elia Caprile.
Dalam pernyataan yang dimuat di situs Napoli, keluarga De Laurentiis menegaskan bahwa transfer Caprile telah dinilai oleh penilai independen yang kredibel sebelum transaksi selesai. Mereka menyebut penilai tersebut adalah profesional berwenang yang pernah menjadi konsultan pengadilan. โKami yakin posisi kami akan segera diklarifikasi di hadapan otoritas yudisial yang berwenang,โ bunyi pernyataan tersebut.
Keluarga De Laurentiis juga menyebut permintaan likuidasi yudisial Bari sebagai 'mengejutkan', mengingat klub selalu memenuhi kewajiban ekonomi dan kerugian operasional ditutup oleh pemilik. Mereka mengklaim telah beroperasi dengan kepatuhan penuh terhadap hukum, standar akuntansi, dan regulasi federal.
Kasus ini menjadi perhatian di Italia karena melibatkan figur berpengaruh seperti Aurelio De Laurentiis, yang juga seorang produser film. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, skandal ini mengingatkan pada pentingnya transparansi keuangan klub, terutama di tengah maraknya investasi asing di Liga Indonesia. Regulasi keuangan yang ketat, seperti yang diterapkan UEFA, bisa menjadi acuan bagi PSSI untuk mencegah kasus serupa.
Ke depannya, publik menanti apakah pengadilan akan mengabulkan permohonan pembatalan proses hukum dari keluarga De Laurentiis, atau justru menemukan bukti yang memperkuat dakwaan jaksa. Apakah transparansi keuangan klub sepak bola di Indonesia sudah cukup untuk mencegah skandal serupa?



