Hancurkan India dengan Rekor Kekalahan Terbesar, Inggris Kokoh di Puncak
Baca dalam 60 detik
- Inggris membalaskan dendam atas India dengan kemenangan 125 run di Trent Bridge, mencatat margin kemenangan terbesar India dalam T20.
- Kecepatan tinggi Jofra Archer dan Josh Tongue (90+ mph) menjadi kunci, membuat India collapse hanya dalam 11.4 over.
- Kemenangan ini memastikan Inggris tak terkalahkan di seri dan membuka peluang sapu bersih di laga keempat.

Inggris mencatat sejarah baru dengan menghancurkan India dalam laga ketiga seri T20 di Trent Bridge, Nottingham, Selasa (30/1) malam. Tim tuan rumah menang telak 125 run, sekaligus menjadi kekalahan terbesar India sepanjang sejarah T20 internasional. Kemenangan ini juga memastikan Inggris unggul 2-0 dalam seri lima pertandingan.
Pertandingan yang berlangsung di bawah terik matahari Nottingham itu menyajikan drama yang tak terduga. India, yang datang sebagai juara dunia dan diperkuat pemain muda berbakat Vaibhav Sooryavanshi (15 tahun), justru tak berkutik menghadapi kecepatan dan agresivitas bowler Inggris. Jofra Archer dan Josh Tongue menjadi mimpi buruk bagi barisan batsman India dengan kecepatan di atas 90 mph.
Archer membuka malapetaka dengan melempar bouncer mematikan yang membuat Sooryavanshi terpukul dan tertangkap kiper Jos Buttler. Sooryavanshi, yang sebelumnya sukses memukul dua six, hanya mampu mencetak 13 run. Dalam waktu singkat, India kehilangan lima wicket di powerplayโsebuah rekor buruk baru di T20 pria. Tongue, yang bermain di kandangnya, menuntaskan pekerjaan dengan 4-28, sementara Archer mengantongi 3-29.
Bagi India, kekalahan ini menjadi tamparan keras. Mereka hanya mampu bertahan 11.4 over dengan total 76 runโterpendek kedua dalam sejarah T20 mereka. Sebelumnya, India juga pernah kalah besar dari Australia (125 run) pada 2019, namun kali ini marginnya sama. Pertanyaan besar kini muncul: apakah India mampu bangkit di dua laga tersisa?
Di sisi lain, Inggris menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasa. Phil Salt, yang biasanya agresif sejak awal, harus bersabar karena kesulitan menemukan irama pukulan. Ia baru mengumpulkan 17 run dari 19 bola pertama, lalu meledak dengan memukul six dari leg-spin Varun Chakravarthy. Salt dan Sam Curran (41* dari 24 bola) membangun kemitraan krusial 47 run dari 26 bola untuk membawa Inggris ke 201-7.
Kemenangan ini juga menjadi bukti bahwa strategi Inggris mengandalkan kecepatan tinggi di atas 90 mph berhasil. Seperti diungkapkan analis kriket, "Inggris telah menemukan formula untuk menghadapi India: serangan pendek dan cepat yang membuat batsman India tak nyaman." India, yang dikenal tangguh di format T20, kini harus mengevaluasi pendekatan mereka, terutama dalam menghadapi bola cepat.
Bagi Indonesia, meski kriket belum menjadi olahraga utama, pertandingan ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya variasi kecepatan dan strategi dalam menghadapi lawan yang lebih diunggulkan. Tim nasional kriket Indonesia bisa belajar dari keberanian Inggris dalam mengeksekusi rencana permainan.
Dengan keunggulan 2-0, Inggris berpeluang menyapu bersih seri ini jika menang di laga keempat di Bristol, Kamis (1/2). Namun, India tentu tak akan menyerah begitu saja. Akankah mereka bangkit atau justru kembali tumbang? Pertandingan berikutnya akan menjadi jawabannya.



