Brad Parks: Kisah Pria di Balik Tenis Kursi Roda yang Kini Mendunia
Baca dalam 60 detik
- Brad Parks menciptakan tenis kursi roda 50 tahun lalu setelah kecelakaan ski yang membuatnya lumpuh, kini olahraga itu dimainkan di Grand Slam dan Paralimpiade.
- Aturan sederhana dengan pantulan bola dua kali menjadi pembeda utama, sementara kursi roda ringan buatan sendiri merevolusi mobilitas pemain.
- Dari lapangan umum yang berdebu hingga Wimbledon dengan hadiah lebih dari £1 juta, perjalanan ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berprestasi.

Lima puluh tahun lalu, seorang pemuda Amerika bernama Brad Parks duduk di kursi roda menonton keluarganya bermain tenis di sebuah taman di Indiana. Saat ayahnya memanggilnya untuk ikut serta, ia tidak hanya memukul bola—ia melahirkan sebuah cabang olahraga yang kini dipertandingkan di Grand Slam dan Paralimpiade. Parks, yang lumpuh akibat kecelakaan freestyle ski di Utah, memutuskan bahwa tenis kursi roda bukan sekadar mimpi, melainkan misi hidup.
Setelah piknik itu, Parks berlatih hampir setiap hari dengan teman dan lawan yang semuanya bukan pengguna kursi roda. Namun, titik balik terjadi saat ia bertemu fisioterapis Jeff Minnebraker di rumah sakit. Keduanya sama-sama bereksperimen dengan tenis di kursi roda dan langsung terikat. "Kami pikir hanya kami berdua yang memainkan tenis kursi roda di seluruh dunia," kenang Parks. Mereka mulai menyusun aturan: lapangan tidak diperkecil, net tidak diturunkan, hanya satu perubahan—bola boleh memantul dua kali. Aturan itu bertahan hingga kini.
Perjuangan awal tidak mudah. Lapangan umum yang berdebu membuat roda sulit mencengkeram, wasit tidak ada, dan turnamen dijalankan oleh staf rehabilitasi yang tidak paham tenis. Parks sering dihadang pertanyaan: "Apakah rodanya merusak lapangan?" Seorang komisaris National Wheelchair Basketball Association bahkan mengatakan bahwa tenis tidak layak untuk kursi roda dan telah menulis tesis tentang itu. Parks kecewa, tetapi tidak menyerah. Ia terus mendemonstrasikan olahraga ini di rumah sakit, klub tenis, bahkan di tempat parkir. Bertahun-tahun kemudian, komisaris yang sama meminta maaf dan meminta saran Parks tentang integrasi dengan induk organisasi.
Inovasi juga datang dari sisi peralatan. Minnebraker, seorang insinyur berbakat, membuat kursi roda aluminium ringan yang jauh lebih gesit dibanding kursi rumah sakit seberat 27 kilogram. Parks yang mencobanya merasa "melayang". Ia kemudian belajar membuat kursi sendiri dan mendirikan perusahaan bersama Minnebraker. "Kursi itu luar biasa," kata Parks. "Saya berkata, 'Buatkan saya kursi,' dan dia menjawab, 'Tidak, tapi saya akan mengajari Anda membuat kursi.'"
Dukungan figur publik turut mengangkat profil olahraga ini. Suatu hari, Parks bermain di klub pribadi New York bersebelahan dengan Gene Wilder dan Sidney Poitier yang sedang syuting film. Mereka bermain ganda, dan Parks berteman akrab dengan Wilder—aktor yang dikenal sebagai Willy Wonka. Petenis top seperti Arthur Ashe, Jimmy Connors, dan Martina Navratilova juga ikut mempromosikan melalui ekshibisi.
Pada 1988, International Wheelchair Tennis Federation (IWTF) dibentuk dengan Parks sebagai presiden pertama. Sepuluh tahun kemudian, IWTF sepenuhnya terintegrasi ke Federasi Tenis Internasional (ITF)—sebuah langkah perintis bagi olahraga disabilitas. Parks mengakui bahwa melepaskan kendali adalah keputusan tepat, karena jika ia memaksakan diri memegang kendali, "saya akan menghambat olahraga ini."
Bagi Indonesia, kisah Parks memberikan inspirasi bahwa inovasi bisa lahir dari keterbatasan. Di tengah minimnya fasilitas tenis kursi roda di Tanah Air, semangat Parks mengingatkan bahwa akar rumput dan kegigihan individu dapat mengubah olahraga menjadi inklusif. Beberapa atlet Indonesia mulai menekuni tenis kursi roda, dan diharapkan kisah ini mendorong lebih banyak dukungan dari federasi dan sponsor.
Parks, yang kini berusia 68 tahun, merasa bangga melihat pencapaian olahraga ciptaannya. "Saya iri dalam arti positif—saya ingin sekali bermain di turnamen seperti Wimbledon," ujarnya. Namun, mimpinya sejak awal bukanlah ketenaran. "Saya hanya ingin berbagi perasaan memukul bola tenis dari kursi roda. Saya ingin orang lain menjadi petenis, bukan hanya pemain basket kursi roda. Kini mereka adalah petenis yang kebetulan duduk di kursi roda."
Pertanyaan besarnya kini: akankah Indonesia mampu melahirkan petenis kursi roda yang bersaing di level dunia, seperti yang diimpikan Parks setengah abad lalu?



