Mengenang Shapoor Zadran: Arsitek Kebangkitan Kriket Afghanistan Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Shapoor Zadran, mantan pelempar cepat Afghanistan, meninggal dunia di usia 38 tahun akibat penyakit imun langka.
- Ia menjadi pahlawan kemenangan perdana Afghanistan di Piala Dunia 2015 dengan pukulan penentu melawan Skotlandia.
- Kepergiannya meninggalkan jejak besar bagi perkembangan kriket di Afghanistan, diakui oleh tokoh seperti Ravi Shastri.

Dunia kriket kehilangan salah satu pionir kebangkitannya. Shapoor Zadran, mantan pelempar cepat tim nasional Afghanistan yang menorehkan sejarah dengan pukulan kemenangan perdana di Piala Dunia, mengembuskan napas terakhir di usia 38 tahun di New Delhi, India, setelah menjalani perawatan untuk kondisi imun langka.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh Dewan Kriket Afghanistan (ACB) pada Kamis (10/10). Dalam pernyataan resmi, ACB menyampaikan "duka cita yang mendalam" atas kepergian Zadran. Ia dikenal sebagai salah satu figur peletak fondasi kriket Afghanistan, yang dedikasi dan semangatnya berperan vital dalam kebangkitan olahraga tersebut di negara yang dilanda konflik.
Zadran mengawali karier internasionalnya pada 2009 dan tampil dalam 44 pertandingan ODI serta 36 T20, mengemas total 80 wicket. Puncak kariernya terjadi pada Piala Dunia 2015 di Australia dan Selandia Baru, saat Afghanistan meraih kemenangan pertama mereka sepanjang sejarah dengan mengalahkan Skotlandia. Zadran-lah yang memukul bola penentu kemenangan, sebuah momen yang dikenang sebagai tonggak kebangkitan kriket Afghanistan.
Mantan pelatih kepala timnas India, Ravi Shastri, turut memberikan penghormatan melalui media sosial. Ia menyebut Zadran sebagai "salah satu arsitek utama kebangkitan Afghanistan di kriket dunia." Shastri menambahkan, "Kontribusinya terhadap perjalanan tim ini akan selalu dikenang. Sebuah kehidupan yang didedikasikan untuk olahraga. Semoga jiwanya beristirahat dengan damai."
Bagi Indonesia, kisah Zadran menjadi pengingat bahwa kriket bisa tumbuh subur di negara yang tidak memiliki tradisi kuat dalam olahraga ini. Perjuangan Afghanistan—dari pengungsi hingga panggung dunia—menawarkan pelajaran berharga bagi pengembangan kriket di Tanah Air, yang tengah berupaya meningkatkan prestasi di tingkat Asia Tenggara. Kepergian Zadran meninggalkan warisan semangat pantang menyerah yang melampaui batas negara.
Dengan kepergian Zadran, Afghanistan kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun, jejak langkahnya di lapangan hijau akan terus menginspirasi generasi pelempar cepat berikutnya, baik di Afghanistan maupun di belahan dunia lain yang bermimpi mengangkat kriket ke level tertinggi.



