Trump Pura-pura Marah, NATO Justru Pulang dengan Deklarasi Solid
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengubah sikap dari keras menjadi lunak saat KTT NATO di Ankara, setelah sebelumnya mengancam akan memangkas perdagangan dengan Spanyol dan menuntut Greenland.
- Dalam pertemuan tertutup, Trump justru menegaskan komitmen AS untuk tetap di NATO dan memberikan lampu hijau bagi Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot.
- Deklarasi akhir KTT menegaskan kembali Pasal 5 tentang pertahanan bersama, serta komitmen pendanaan militer untuk Ukraina sebesar 70 miliar euro per tahun hingga 2027.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menutup KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu (8/7) dengan nada damai yang kontras dengan ancaman-ancamannya di hadapan publik. Setelah sebelumnya mengecam sekutu karena tidak mendukung kampanye militernya melawan Iran dan menuntut Denmark menyerahkan Greenland, Trump justru menyatakan bahwa pertemuan tersebut penuh dengan "cinta dan persatuan".
Sikap ganda Trump ini menjadi sorotan utama KTT yang berlangsung di tengah ketegangan hubungan transatlantik. Sebelum memasuki ruang sidang tertutup, Trump mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol dan mengecam NATO karena dianggap tidak membantu AS dalam perang melawan Iran. Namun, begitu berada di dalam ruangan bersama 32 kepala negara, nada bicaranya berubah drastis. Seorang sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan kepada AFP bahwa Trump menyampaikan pesan "kami ingin tetap bersama kalian" dan tidak lagi menyebut soal Spanyol atau Greenland.
Perubahan sikap ini dinilai sebagai strategi negosiasi khas Trump yang kerap menggunakan ancaman publik untuk mendapatkan konsesi di belakang layar. Perdana Menteri Estonia Kristen Michal menyebut bahwa di dalam ruangan Trump memberikan "pesan konstruktif" tentang perlunya Eropa meningkatkan belanja pertahanan. Sementara Menteri Luar Negeri Lithuania Kestutis Budrys menilai bahwa ledakan emosi Trump tidak perlu didramatisasi sebagai tanda keretakan aliansi.
Salah satu hasil konkret KTT adalah komitmen baru untuk Ukraina. Trump secara terbuka mengatakan akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem pertahanan udara Patriot, yang selama ini sangat dibutuhkan untuk menangkal rudal balistik Rusia. "Itu cukup keren, bukan?" ujar Trump kepada Zelenskyy dalam pertemuan bilateral di sela-sela KTT. Meskipun pasokan interceptor Patriot AS menipis, langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertahanan udara Ukraina dalam jangka panjang.
Deklarasi akhir KTT juga menegaskan bahwa Eropa dan Kanada akan terus mengucurkan bantuan militer sebesar 70 miliar euro per tahun hingga 2027. Angka ini menunjukkan bahwa sekutu NATO berusaha keras membuktikan keseriusan mereka dalam meningkatkan belanja pertahanan, seperti yang terus didesak oleh Trump. Sehari sebelumnya, negara-negara anggota mengumumkan puluhan miliar dolar kontrak senjata baru untuk memenangkan hati presiden AS yang dikenal kritis terhadap aliansi.
Bagi Indonesia, dinamika KTT NATO ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap stabilitas keamanan global. Sebagai negara yang menganut politik bebas aktif, Indonesia berkepentingan terhadap terciptanya keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik. Jika NATO semakin fokus ke Asia melalui kemitraan dengan Jepang, Korea Selatan, dan Australia, hal ini dapat mempengaruhi keseimbangan strategis di kawasan yang menjadi perhatian utama Indonesia. Selain itu, komitmen pendanaan untuk Ukraina yang terus mengalir berarti konflik Rusia-Ukraina belum akan segera berakhir, yang berpotensi mempengaruhi harga energi dan rantai pasok global.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menutup KTT dengan nada optimis, mengatakan bahwa perbedaan pendapat justru membuat aliansi semakin kuat. "Saya selalu merasa bahwa keluarga yang kadang bertengkar justru lebih kuat," ujarnya. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah apakah keharmonisan semu ini akan bertahan lama, atau hanya jeda sebelum badai berikutnya, terutama mengingat Trump masih harus menghadapi tekanan politik domestik dan pemilu yang akan datang.



