Antonio Nusa: Menulis Mimpi di Panggung Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Norwegia untuk pertama kalinya lolos ke perempat final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Brasil 2-1.
- Winger RB Leipzig Antonio Nusa menjadi sorotan berkat kontribusinya di lapangan dan buku anak-anak yang ia terbitkan.
- Buku 'Everything Begins with a Dream' laris terjual 21.000 eksemplar dalam dua bulan, menunjukkan pengaruh Nusa di luar sepak bola.

Norwegia menorehkan sejarah baru di Piala Dunia 2026 dengan menembus babak perempat final untuk pertama kalinya, setelah menundukkan Brasil 2-1 di New Jersey pada 5 Juli lalu. Di balik pencapaian monumental ini, sosok Antonio Nusa, winger RB Leipzig berusia 21 tahun, menjadi salah satu aktor kunci—bukan hanya karena aksinya di lapangan, tetapi juga karena karya tulisnya yang menginspirasi banyak orang.
Bagi Nusa, turnamen di Amerika Utara ini adalah perwujudan mimpi masa kecil yang menjadi kenyataan. Sebelum menghadapi Brasil, ia sudah menjadi pahlawan kala Norwegia mengalahkan Pantai Gading di babak 32 besar dengan skor 2-1. Gol indah yang ia cetak membuatnya terharu hingga meneteskan air mata setelah pertandingan. Kepada media, Nusa mengungkapkan bahwa momen itu terkait erat dengan mendiang neneknya dan janji yang pernah ia ucapkan kepadanya.
Pertandingan melawan Brasil menjadi lebih istimewa karena Nusa akhirnya berbagi lapangan dengan idolanya sejak kecil, Neymar. Meski keduanya tidak bermain bersamaan—Nusa diganti saat jeda, sementara Neymar baru masuk pada menit ke-67—pengalaman itu tetap terasa magis. Sebelum turnamen, Nusa pernah berkata kepada harian Norwegia Dagbladet, "Saya berharap bisa melihat Neymar di Piala Dunia. Sekarang saya menantikan untuk melawan Brasil dan mengalahkan mereka." Dan ia mewujudkannya.
Namun, cerita Nusa tidak berhenti di lapangan hijau. Pada Mei lalu, ia merilis buku anak-anak berjudul Everything Begins with a Dream. Buku ini berisi perjalanan hidupnya menjadi pesepak bola profesional, lengkap dengan nasihat praktis dan strategi untuk memotivasi pembaca muda meraih impian mereka. Hasilnya mencengangkan: hampir 21.000 eksemplar terjual dalam waktu kurang dari dua bulan, dan cetakan ketiga sudah dalam proses. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa pesan Nusa tentang kerja keras dan keyakinan diri benar-benar autentik.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Nusa memberikan pelajaran berharga. Di tengah minimnya prestasi Timnas Indonesia di level dunia, perjalanan Norwegia—negara yang juga bukan raksasa sepak bola—menunjukkan bahwa mimpi besar bisa diraih dengan konsistensi dan kerja keras. Nusa, yang lahir di Norwegia dari orang tua keturunan Nigeria, adalah contoh nyata bagaimana latar belakang bukanlah penghalang. Buku yang ia tulis bahkan bisa menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda Indonesia untuk tidak hanya bermain, tetapi juga membangun merek pribadi dan dampak sosial.
Ke depan, Norwegia akan menghadapi lawan tangguh di perempat final. Akankah Nusa dan timnya mampu melangkah lebih jauh? Satu hal yang pasti: baik di atas lapangan maupun melalui tulisannya, Antonio Nusa telah membuktikan bahwa mimpi memang dimulai dari sebuah keyakinan.



