Duel Messi vs Kobel: Kiper Dortmund Jadi Tembok Terakhir Swiss di Perempat Final Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gregor Kobel menjadi pahlawan Swiss setelah menggagalkan penalti kunci saat mengalahkan Kolombia di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Kiper Borussia Dortmund itu menempati peringkat kedua dalam FIFA Power Rankings untuk penjaga gawang, hanya di belakang Diogo Costa dari Portugal.
- Pertemuan dengan Argentina dan Lionel Messi di perempat final menjadi ujian terbesar bagi Kobel dan pertahanan Swiss yang tangguh.

Gregor Kobel, kiper Borussia Dortmund, menjadi sorotan utama jelang laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Swiss dan Argentina. Penjaga gawang berusia 28 tahun itu diyakini menjadi kunci bagi Swiss untuk meredam agresivitas Lionel Messi yang tengah dalam performa terbaiknya. Pertandingan yang akan berlangsung pada 12 Juli mendatang ini diprediksi menjadi duel sengit antara lini serang Argentina yang mematikan dan pertahanan Swiss yang solid.
Swiss melaju ke perempat final setelah menyingkirkan Kolombia melalui adu penalti. Kobel menjadi pahlawan dengan menggagalkan eksekusi Cucho Hernández, memastikan kemenangan 4-3 bagi timnya. Ini bukan kali pertama Kobel menunjukkan kehebatannya dalam adu penalti; sebelumnya ia juga menjadi momok bagi Eintracht Frankfurt di Piala DFB musim 2025/26. Dua clean sheet beruntun di Piala Dunia ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kiper terbaik turnamen.
Menurut FIFA Power Rankings, Kobel menduduki peringkat kedua di antara semua penjaga gawang dengan skor 8,21, hanya kalah dari Diogo Costa (8,89). Sistem peringkat ini menilai performa kiper dalam penguasaan bola dan kemampuan menjaga gawang. Catatan Kobel di Bundesliga musim lalu juga impresif: ia mencatatkan 15 clean sheet dan melakukan 92 penyelamatan, membantu Borussia Dortmund finis di posisi kedua dengan rekor pertahanan terbaik liga (hanya 34 gol kebobolan).
Di sisi lain, Argentina datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Mesir di babak 16 besar berkat gol telat Messi dan Enzo Fernandez. Messi, yang kini berusia 39 tahun, menunjukkan ketajamannya dengan mengoleksi delapan gol, sejajar dengan Kylian Mbappé. Ia bahkan bermain penuh 120 menit saat melawan Cape Verde di babak 32 besar, membuktikan ambisinya membawa Argentina meraih gelar juara dunia kedua berturut-turut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, duel ini menawarkan tontonan menarik antara dua kekuatan berbeda: Argentina dengan bintang supernya dan Swiss dengan pertahanan kolektif yang disiplin. Kobel, yang pernah menjadi incaran klub-klub Eropa, menjadi contoh bagaimana kiper modern tidak hanya andal dalam penyelamatan tetapi juga dalam distribusi bola. Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Swiss, negara kecil yang mampu bersaing di panggung terbesar sepak bola dunia.
“Menyelamatkan penalti itu adalah momen besar. Saya sangat percaya diri sepanjang adu penalti, baik pada kemampuan rekan-rekan saya mencetak gol maupun kemampuan saya sendiri. Saya sangat senang semuanya berhasil,” ujar Kobel usai laga melawan Kolombia.
Kobel juga menambahkan, “Saya rasa tidak berlebihan jika mengatakan ini adalah pencapaian luar biasa bagi kami, bagi tim ini, bagi Swiss. Negara kecil seperti kami bisa berada di delapan besar dunia dalam olahraga terbesar di planet ini sungguh luar biasa.”
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Kobel dan lini belakang Swiss menghentikan laju Messi yang sedang on fire? Atau akankah Argentina kembali menunjukkan dominasinya? Jawabannya akan terjawab dalam laga perempat final yang dinanti-nanti seluruh dunia.



