Benteng Azteca Runtuh: Inggris Taklukkan Meksiko 3-2 di Laga Epik
Baca dalam 60 detik
- Inggris mengalahkan Meksiko 3-2 di Stadion Azteca dalam laga yang dramatis, penuh hambatan mulai dari ketinggian 7.000 kaki, badai, hingga kartu merah Jarell Quansah.
- Jude Bellingham menjadi bintang dengan dua gol, sementara Jordan Pickford tampil gemilang di bawah mistar, menyamai rekor penampilan Piala Dunia Peter Shilton.
- Kemenangan ini membawa Inggris ke perempat final melawan Norwegia di Miami, sekaligus membuktikan ketangguhan tim asuhan Thomas Tuchel di turnamen besar.

Stadion Azteca yang selama puluhan tahun menjadi benteng tak terkalahkan Meksiko akhirnya runtuh. Inggris, dengan 10 pemain sejak awal babak kedua, mencuri kemenangan 3-2 dalam laga yang segera tercatat sebagai salah satu partai terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Di hadapan 87.000 suporter tuan rumah yang histeris, skuad asuhan Thomas Tuchel menunjukkan bahwa mental juara tidak bisa diukur dari jumlah pemain di lapangan.
Pertandingan yang sempat tertunda satu jam akibat badai petir ini menyajikan drama dari menit pertama. Meksiko, yang sebelumnya hanya kalah dua kali dari 89 laga kompetitif di Azteca, harus mengakui keunggulan Inggris yang bermain dengan disiplin tinggi. Ketinggian 7.000 kaki di atas permukaan laut dan tekanan atmosfer yang mencekik tidak menyurutkan langkah Harry Kane dkk. untuk melaju ke perempat final.
Kunci kemenangan ada pada strategi Tuchel yang memilih bertahan dalam dan menguasai bola di awal laga untuk menguras energi lawan. Keputusan berani diambil setelah kartu merah Quansah: memasukkan John Stones menggantikan Bukayo Saka, lalu Dan Burn dan Djed Spence untuk membentuk lima bek. Hasilnya, gempuran Meksiko di menit-menit akhir bisa diredam, meskipun Raul Jimenez memperkecil skor lewat penalti yang sebenarnya juga lahir dari pelanggaran Kane.
Jude Bellingham menjadi pusat perhatian. Pemain yang sebelumnya diragukan tempatnya di tim utama ini membungkam kritik dengan dua gol dan kerja keras tanpa henti. Mantan bek Inggris, Micah Richards, menyebutnya sebagai "superstar absolut" yang selalu tampil 100 persen. Bellingham sendiri mengaku bangga bisa memberikan malam yang tak terlupakan bagi para pendukung Inggris.
"Saya bermimpi menjadi bagian dari skuad Inggris ini, menyatukan negara saya, memberi mereka malam seperti ini yang akan mereka nikmati selama bertahun-tahun," ujar Bellingham usai laga.
Di sisi lain, Jordan Pickford menunjukkan performa terbaiknya di turnamen ini. Setelah tampil buruk saat melawan DR Congo, kiper Everton itu melakukan dua penyelamatan gemilang di babak pertama dan memimpin pertahanan dengan tenang saat Meksiko menekan di akhir laga. Catatan 17 penampilan Piala Dunia yang ia raih akan segera terlewati jika Inggris melaju lebih jauh.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi tontonan yang mengingatkan pada semangat tim Garuda saat menghadapi tekanan besar. Meski levelnya berbeda, determinasi Inggris melawan segala rintangan—altitude, suara bising, kartu merah—bisa menjadi pelajaran tentang ketahanan mental. Apalagi, Indonesia sendiri tengah mempersiapkan diri menghadapi babak kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan datang.
Tuchel, yang sejak awal ditunjuk untuk "menempelkan bintang kedua di jersey", kini selangkah lebih dekat ke targetnya. Namun, tantangan berikutnya melawan Norwegia di Miami tidak akan mudah. Akankah Inggris mampu mempertahankan performa heroik ini? Atau justru kelelahan fisik dan mental setelah laga melelahkan di Azteca akan menjadi batu sandungan? Semua mata akan tertuju ke Florida akhir pekan ini.



