Arthur Fery: Dari Mimpi di Pinggir Wimbledon ke Pusat Perhatian
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Arthur Fery, yang belum pernah melampaui putaran kedua Grand Slam, kini lolos ke putaran keempat Wimbledon setelah mengalahkan Zizou Bergs.
- Fery, yang lahir di Prancis dan besar di Wimbledon, membawa harapan Inggris setelah 18 petenis tuan rumah lainnya tersingkir di putaran awal.
- Petenis peringkat 114 dunia ini juga berjuang melawan mimisan yang diduga dipicu stres, dan akan menghadapi Grigor Dimitrov di Centre Court.

Seorang pemuda yang tumbuh di bayang-bayang All England Club kini menjadi pusat perhatian di Wimbledon. Arthur Fery, petenis Inggris berusia 23 tahun, berhasil menembus putaran keempat Grand Slam untuk pertama kalinya dalam kariernya, membawa serta sorak-sorai khas penonton yang meneriakkan "All aboard the Fery!"โsebuah plesetan dari namanya yang mirip dengan kata "ferry" (kapal feri).
Kemenangan dramatis atas Zizou Bergs dalam lima set yang menegangkan tidak hanya mengukir sejarah pribadi, tetapi juga menjadikannya satu-satunya harapan tuan rumah di nomor tunggal. Dari 19 petenis Inggris yang berlaga di nomor tunggal, hanya Fery yang masih bertahan setelah rekan-rekannya gugur di putaran pertama dan kedua. Beban ekspektasi pun kini dipikul oleh pemain kelahiran Paris yang pindah ke Wimbledon sejak kecil.
Perjalanan Fery menuju panggung utama tidaklah mulus. Selepas menempuh pendidikan di Stanford University dengan beasiswa tenis, ia sempat menunda transisi penuh ke ATP Tour demi menyelesaikan studi. Cedera juga menghambat langkahnya, terutama memar tulang di lengan yang mirip dengan masalah yang dialami Jack Draper. Namun, musim ini ia berhasil memenangkan 23 dari 35 pertandingan, dan setelah Wimbledon dipastikan akan menembus 100 besar dunia untuk pertama kali.
Fenomena lain yang menyertai kebangkitan Fery adalah masalah kesehatan yang tidak biasa. Selama turnamen, ia beberapa kali harus menghentikan pertandingan untuk mengatasi mimisan, termasuk saat melawan Bergs ketika ia tertinggal 4-5 di set kelima. Kondisi ini pertama kali muncul di Queen's bulan lalu dan terus berlanjut di Wimbledon. Konsultan THT Jonathan Joseph dari University College London NHS Hospitals menjelaskan bahwa stres dapat memperburuk mimisan, sama seperti yang dialami siswa menjelang ujian besar. "Stres membuat masalah kesehatan menjadi lebih parah, termasuk mimisan," ujar Joseph.
Pelatih LTA Alex Ward menilai kepercayaan diri Fery menjadi kunci keberhasilannya. "Ia benar-benar percaya, bukan dengan cara sombong, bahwa ia bisa mengalahkan pemain-pemain di sini. Ia akan menikmati berada di Centre Court," kata Ward. Fery sendiri mengaku senang dengan dukungan penonton yang ramai, meski bercanda bahwa sebagian mungkin dipengaruhi oleh minuman Pimm's. "Energi di sekitar lapangan terasa luar biasa, dan saya berharap hal yang sama terjadi pada Senin nanti," ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Fery mengingatkan pada perjuangan petenis muda Tanah Air yang kerap menghadapi kendala cedera dan tekanan mental. Fenomena mimisan akibat stres juga relevan di tengah kompetisi ketat, baik di olahraga maupun dunia akademik. Dengan persiapan mental yang matang dan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin petenis Indonesia kelak bisa menembus panggung Grand Slam seperti Fery.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Fery mengatasi tekanan dan masalah fisiknya untuk melangkah lebih jauh? Jika ia berhasil melewati Dimitrov, maka bukan tidak mungkin ia akan menjadi cerita kejutan terbesar Wimbledon tahun ini.



