Osaka Bangkit dari Bayang-bayang, Kalahkan Sabalenka di Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka mengalahkan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka 6-2, 7-6(2) untuk lolos ke perempatfinal Wimbledon, kemenangan pertamanya atas pemain papan atas sejak 2019.
- Strategi agresif Osaka dengan servis dan groundstroke datar membuat Sabalenka kewalahan, sekaligus membalikkan tiga kekalahan beruntun dari lawan yang sama tahun ini.
- Kemenangan ini menandai kebangkitan Osaka setelah jeda panjang karena masalah kesehatan mental dan kehamilan, serta membuka peluangnya untuk bersaing di turnamen Grand Slam.

Naomi Osaka akhirnya memecahkan kebuntuan melawan Aryna Sabalenka. Dalam pertarungan dua pemukul keras di Wimbledon, Minggu (6/7), Osaka menang straight set 6-2, 7-6(2) untuk merebut tiket perempatfinal pertamanya di All England Club.
Kemenangan ini menjadi penebusan bagi Osaka yang sebelumnya kalah tiga kali beruntun dari Sabalenka pada tahun ini, termasuk di Prancis Terbuka bulan lalu. Strategi Osaka sederhana: mengambil inisiatif lebih dulu. "Di lapangan tanah liat saya merasa dia terus mendorong saya mundur. Kali ini saya coba lakukan itu padanya lebih dulu," ujar Osaka usai pertandingan.
Pukulan datar dan bertenaga Osaka membuat Sabalenka, petenis nomor satu dunia, tak berkutik. Dalam suhu 28 derajat Celsius, bola-bola Osaka melesat lebih cepat. Sabalenka mengakui keunggulan lawannya. "Dia overpower saya. Levelnya luar biasa hari ini," kata Sabalenka. Statistik membuktikan: Osaka mencatat 87 persen servis pertama masuk, delapan ace, dan 21 winner, hanya dalam waktu kurang dari 1,5 jam.
Bagi Osaka, kemenangan ini lebih dari sekadar angka. Ini adalah bukti kebangkitannya setelah vakum panjang. Pada 2021 ia cuti karena masalah kesehatan mental, lalu melahirkan putrinya yang kini berusia tiga tahun pada 2023. Setelah dikalahkan Iga Swiatek di Roma, Mei lalu, Osaka mengaku sempat "menutup diri dari tim" dan pulang. "Saya merasa malu. Lalu saya bilang ke diri sendiri, saya hampir 30 tahun, harus menikmati waktu yang ada. Tenis penting, tapi saya punya hidup di luar itu," katanya.
Di sisi lain, Sabalenka kembali gagal di babak lanjutan Grand Slam. Setelah kehilangan fokus di perempatfinal Prancis Terbuka, ia kini mengaku ingin "mabuk berat, lupakan tenis, dan coba lebih fit." Dua petenis dengan empat gelar Grand Slam masing-masing ini memang belum pernah menang di Wimbledon; semua trofi mereka datang dari lapangan keras Australia dan AS.
Osaka selanjutnya akan bertemu Karolina Muchova, yang mengalahkan juara bertahan Barbora Krejcikova. Muchova juga yang memaksa Osaka retired di final Bad Homburg pekan lalu karena cedera kaki. Laga ulangan ini akan menjadi ujian seberapa pulih kondisi Osaka.
Bagi Indonesia, performa Osaka mengingatkan pada pentingnya manajemen mental dan keseimbangan hidup bagi atlet. Di tengah gempuran jadwal padat dan tekanan kompetisi, pendekatan Osaka bisa menjadi contoh bagi petenis muda Tanah Air yang mulai merambah turnamen internasional. Pertanyaannya, akankah konsistensi ini bertahan hingga babak akhir Wimbledon?



