Kontroversi Aturan Cedera Wimbledon: Felix Auger-Aliassime Sebut 'Aib'
Baca dalam 60 detik
- Petenis Kanada Felix Auger-Aliassime mengkritik aturan cedera yang memungkinkan lawan memanggil fisioterapis di tengah game servisnya, menyebutnya sebagai 'aib'.
- Insiden terjadi saat Auger-Aliassime unggul dua match point di set keempat, namun lawan mengambil time-out cedera dan akhirnya memaksakan set penentuan.
- Kritik ini memicu perdebatan tentang keadilan aturan medis di tenis, terutama saat pemain memanfaatkannya untuk mengganggu momentum lawan.

Petenis Kanada, Felix Auger-Aliassime, melontarkan kritik pedas terhadap aturan cedera di Wimbledon setelah pertandingan dramatis melawan Alejandro Davidovich Fokina, Minggu (5/7). Unggulan ketiga itu menyebut regulasi yang memungkinkan pemain memanggil fisioterapis di tengah game servis lawan sebagai 'aib' dan mendesak perubahan segera.
Pertandingan berlangsung sengit hingga set keempat. Saat Auger-Aliassime unggul 5-4 dan memiliki dua match point, Davidovich Fokina tiba-tiba meminta time-out medis karena cedera pergelangan kaki. Momen itu mengubah ritme permainan. Petenis Spanyol tersebut berhasil bangkit, mematahkan servis lawan, dan memaksakan set penentuan. Auger-Aliassime akhirnya menang 6-7(4), 7-6(6), 6-3, 6-7(2), 6-1, namun kemenangan itu diwarnai ketegangan.
Setelah berjabat tangan, kedua pemain terlibat adu mulut. Auger-Aliassime enggan mengungkap isi percakapan, namun dengan tegas menyoroti aturan yang dinilainya cacat. "Selama aturan seperti ini, pemain akan memanfaatkannya untuk keuntungan sendiri," ujarnya dalam konferensi pers. Ia mencontohkan, jika seorang pemain benar-benar cedera parah saat pertandingan berlangsung, seharusnya ia kehilangan poin hingga bisa memanggil fisioterapis. "Tapi menghentikan servis lawan di tengah jalan? Itu aib. Saya tidak melihat olahraga lain yang membolehkan hal seperti itu," tegasnya.
Kontroversi ini kembali memicu diskusi tentang aturan medis di tenis. Federasi Tenis Internasional (ITF) dan turnamen Grand Slam memiliki protokol cedera yang memungkinkan pemain memanggil fisioterapis kapan saja, termasuk di tengah game. Namun, kritik seperti yang dilontarkan Auger-Aliassime menyoroti celah yang kerap dimanfaatkan untuk mengganggu momentum lawan. Beberapa analis menilai aturan ini perlu direvisi agar lebih ketat, misalnya dengan membatasi panggilan medis hanya pada pergantian set atau saat pemain kehilangan servis.
Bagi penggemar tenis Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa olahraga level tertinggi tidak hanya soal fisik, tetapi juga strategi psikologis. Aturan yang ambigu sering kali dimanfaatkan pemain untuk memecah konsentrasi lawan, dan hal ini bisa memengaruhi hasil pertandingan secara signifikan. Di Indonesia, di mana tenis masih berkembang, penting bagi federasi dan pelatih untuk mengedukasi atlet tentang regulasi dan cara menghadapi situasi serupa.
Selanjutnya, Auger-Aliassime akan menghadapi tantangan terbesarnya: Novak Djokovic. Petenis Serbia itu sedang dalam performa impresif dan dijagokan juara. Meski demikian, Auger-Aliassime optimistis. "Saya hanya bisa berkata baik tentang Novak. Sebagai anak-anak, saya tidak terlalu menghargai kerja kerasnya, tapi sekarang saya paham betapa luar biasanya dedikasinya," pujinya. Pertanyaan besarnya: mampukah Auger-Aliassime mengatasi tekanan dan melanjutkan langkahnya, atau justru aturan kontroversial itu akan kembali menghantuinya?



