Kemenangan Bersejarah Inggris di Azteca: Mengalahkan Meksiko dengan 10 Pemain
Baca dalam 60 detik
- Inggris menaklukkan Meksiko 3-2 di Stadion Azteca, menjadi tim tamu kedua yang mengalahkan tuan rumah Piala Dunia setelah Swiss 1954.
- Kemenangan ini diraih meski Jarell Quansah mendapat kartu merah di menit ke-54, menunjukkan ketangguhan mental The Three Lions.
- Prestasi ini menempati jajaran teratas kemenangan tandang Inggris, sejajar dengan kemenangan 5-1 atas Jerman di Munich dan hasil imbang 0-0 di Roma.

Inggris menorehkan sejarah baru di Piala Dunia dengan mengalahkan Meksiko 3-2 di Stadion Azteca, markas legendaris yang selama ini menjadi benteng kokoh bagi El Tri. Kemenangan ini bukan hanya sekadar tiga poin, melainkan bukti nyata bahwa tekanan atmosfer dan ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut tidak mampu menghentikan langkah anak asuh Gareth Southgate.
Sepanjang turnamen, Meksiko tampil sempurna di kandang dengan empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan. Namun, Inggris datang dengan misi berbeda. Dua gol Jude Bellingham di babak pertama dan satu penalti Harry Kane sudah cukup untuk membungkam 87.000 suporter tuan rumah. Yang lebih mengesankan, kemenangan ini diraih saat Inggris bermain dengan 10 pemain setelah Jarell Quansah diusir wasit pada menit ke-54.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini mengingatkan pada betapa pentingnya mentalitas pantang menyerah. Timnas Indonesia pun kerap menghadapi tekanan serupa saat bertandang ke stadion dengan suporter fanatik, seperti di Gelora Bung Karno atau Stadion Utama Riau. Kemenangan Inggris di Azteca bisa menjadi inspirasi bahwa faktor kandang bukanlah segalanya.
Dalam sejarah panjang sepak bola Inggris, kemenangan ini langsung dibandingkan dengan hasil-hasil ikonik lainnya. Misalnya, kemenangan 5-1 atas Jerman di Munich pada 2001 yang membawa Inggris lolos ke Piala Dunia 2002. Atau hasil imbang 0-0 di Roma pada 1997 yang mengantarkan Inggris ke Prancis 1998. Namun, konteks laga ini berbeda: Inggris tidak hanya menghadapi tuan rumah, tetapi juga harus bertahan dengan 10 pemain selama lebih dari 35 menit.
Menurut analis sepak bola, kemenangan di Azteca menunjukkan kedalaman skuad Inggris. Bellingham, yang baru berusia 20 tahun, tampil sebagai bintang dengan dua golnya. Sementara itu, lini belakang yang kehilangan satu pemain justru tampil disiplin dan hanya kebobolan satu gol setelah kartu merah. Ini menjadi sinyal positif bagi Inggris untuk melaju lebih jauh di turnamen.
Bagi Indonesia, pelajaran berharga bisa diambil dari strategi Inggris. Timnas Garuda seringkali kesulitan saat bermain di kandang lawan dengan suporter keras, seperti saat menghadapi Malaysia di Bukit Jalil atau Thailand di Rajamangala. Kunci sukses Inggris adalah persiapan mental dan fisik yang matang, termasuk adaptasi terhadap ketinggian yang dilakukan sejak awal turnamen.
Ke depan, Inggris akan menghadapi lawan yang lebih berat di perempat final. Namun, jika mereka mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Meksiko, bukan tidak mungkin trofi Piala Dunia akan kembali ke Inggris setelah 58 tahun. Pertanyaannya, mampukah The Three Lions mempertahankan konsistensi di laga-laga krusial selanjutnya?



