Sedekah Laut di Batang: Tradisi Syukur di Tengah Abrasi dan Desakan Industri
Baca dalam 60 detik
- Ratusan nelayan di Batang menggelar sedekah laut sebagai ungkapan syukur, meski garis pantai tergerus abrasi rata-rata 2,2 meter per tahun sejak PLTU beroperasi.
- Aktivis Walhi menilai tradisi ini menjadi pengingat bahwa ruang hidup nelayan semakin terdesak oleh alih fungsi pesisir menjadi kawasan industri.
- Pemerintah daerah mengakui abrasi meningkat, namun belum ada langkah konkret menghentikan ekspansi yang merusak ekosistem laut.

Di tengah terik matahari yang membakar siang, puluhan nelayan Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, duduk melingkar di tepi pantai pada Minggu (28/6/2026). Mereka memanjatkan doa, mengucap syukur atas karunia laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan. Tak lama kemudian, replika kapal merah putih bermuatan hasil laut dilepas ke tengah ombak, diiringi rebutan makanan yang diyakini membawa berkah. Ritual sedekah laut yang telah diwariskan secara turun-temurun itu tahun ini terasa berbedaโbukan karena semangat warga yang surut, melainkan karena kondisi pesisir yang kian memprihatinkan.
"Kami tetap bersyukur, tetap sedekah, meski laut sudah tidak seperti dulu waktu saya kecil. Ikan dulu melimpah, sekarang melaut harus jauh," ujar Tono, seorang nelayan Roban Timur, kepada Mongabay. Keluhan serupa disampaikan Hariyono dan Vina, yang berharap tradisi ini bisa menjaga mereka dari gangguan kapal tongkang dan kerusakan lingkungan. Namun, di balik harapan itu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa abrasi dan industrialisasi telah mengubah wajah pesisir Batang secara drastis.
Zalya Tilaar, Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah, menilai momentum sedekah laut menjadi pengingat bahwa ruang hidup nelayan semakin terdesak. "Dalam politik tata ruang yang berlangsung saat ini, wilayah pesisir terus diarahkan menjadi kawasan industri. Akibatnya, fungsi ekologis pesisir terabaikan," katanya. Ia menyoroti keberadaan PLTU Batang dan rencana pembangunan PLTGU yang memperparah kerusakan. Sejak PLTU beroperasi, perubahan dinamika arus laut memicu abrasi yang tidak hanya menghilangkan daratan, tetapi juga mengancam permukiman dan wilayah tangkap nelayan.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, sebelumnya mengakui bahwa abrasi meningkat setiap tahun. "Setiap tahun daratan kita berkurang," ujarnya dalam laman resmi Pemkab Batang. Ia menambahkan bahwa industrialisasi memang meningkatkan ekonomi, namun sekaligus membuat tata ruang pantai semakin kompleks. Pernyataan itu kontras dengan desakan Walhi yang meminta pemerintah menghentikan ekspansi pembangunan yang merusak pesisir dan menempatkan nelayan sebagai subjek utama dalam kebijakan.
Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma, Silvero Raden Lilik Aji Sampurno, menjelaskan bahwa tradisi sedekah laut sudah tercatat sejak 1875, saat Bupati Cilacap III memerintahkan pelarungan sesaji ke laut selatan. "Tradisi ini tetap mengikat mereka. Ada kepercayaan, kalau tidak melakukan, mereka merasa celaka," katanya. Namun, ia meyakini nelayan akan tetap menjaga laut karena menyadari laut adalah sumber daya jangka panjang, meski harus berhadapan dengan kepentingan pembangunan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah tradisi dan kearifan lokal bertahan di tengah gempuran industri dan abrasi yang tak kunjung teratasi? Ataukah sedekah laut hanya akan menjadi ritual tanpa daya, menyisakan ironi di pesisir Batang?



