Film Pendek Lintas Batas: Aktris Kamboja Tembus Festival Film Tiongkok
Baca dalam 60 detik
- Reth Sarita, aktris asal Kamboja, membintangi film pendek 'Daughter of the Apsara' yang terpilih dalam FIRST International Film Festival di Xining, Tiongkok.
- Film garapan sutradara Tiongkok Hua Hui ini mengisahkan perempuan Kamboja dalam pernikahan lintas negara dan pencarian identitas di perantauan.
- Pencapaian ini membuka peluang lebih luas bagi sineas Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk menembus pasar film Tiongkok.

Film pendek berdurasi 18 menit berjudul Daughter of the Apsara berhasil menembus seleksi resmi FIRST International Film Festival di Xining, Qinghai, Tiongkok. Film yang dibintangi aktris Kamboja Reth Sarita ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas batas antara Asia Tenggara dan Tiongkok kian mendapat tempat di panggung festival internasional.
Disutradarai dan ditulis oleh sineas Tiongkok Hua Hui, film ini merupakan hasil produksi bersama Kamboja dan Tiongkok yang seluruh pengambilan gambarnya dilakukan di Guangzhou, Guangdong. Sarita, yang memerankan tokoh utama, harus berdialog dalam dua bahasa—Khmer dan Mandarin—untuk menghidupkan karakter seorang perempuan migran yang identitasnya dibentuk oleh bahasa, ingatan, dan kehidupan jauh dari kampung halaman.
Menurut tim produksi, alur cerita berfokus pada perjalanan emosional seorang perempuan Kamboja yang menjalani pernikahan lintas negara. Ia bergulat dengan kerinduan akan rasa memiliki di tanah asing, sebuah tema universal yang relevan bagi banyak diaspora Asia Tenggara di Tiongkok.
Sarita mengumumkan kabar ini melalui media sosial, menyebutnya sebagai pencapaian yang tak terlupakan. “Saya merasa sangat bersyukur dan bersemangat untuk berbagi bahwa film pendek yang saya bintangi telah resmi terpilih,” tulisnya. “Ini adalah proyek film pertama saya di luar Kamboja, syuting di Guangzhou, Tiongkok. Saya mendapat kehormatan memerankan seorang gadis Kamboja yang tinggal di luar negeri, sebuah peran yang sangat dekat di hati saya.”
Bagi Sarita, seleksi ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga langkah maju bagi para pelaku seni peran Kamboja yang ingin dikenal di panggung film global. Industri film Kamboja memang masih tumbuh, tetapi kehadiran di festival sekelas FIRST bisa menjadi katalis untuk proyek-proyek internasional berikutnya.
Konteks Indonesia: Pencapaian serupa sebenarnya juga terbuka bagi sineas Tanah Air. Dengan populasi diaspora Indonesia yang cukup besar di Tiongkok, tema migrasi dan pencarian identitas bisa menjadi jembatan kolaborasi. Beberapa film Indonesia seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak pernah sukses di festival Tiongkok, menunjukkan bahwa pasar ini potensial. Namun, tantangan bahasa dan pemahaman budaya masih menjadi hambatan utama.
FIRST International Film Festival sendiri dikenal sebagai ajang yang kerap melahirkan sineas muda berbakat dari Tiongkok dan Asia. Dengan masuknya Daughter of the Apsara, diharapkan akan lebih banyak lagi proyek lintas batas yang mendapat sorotan. Pertanyaannya, akankah sineas Indonesia menyusul langkah serupa?



