OPEC+ Kembali Naikkan Target Produksi, Pasokan Minyak Global Mulai Pulih
Baca dalam 60 detik
- OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi 188.000 barel per hari mulai Agustus, melanjutkan tren pelonggaran pemangkasan yang sudah berlangsung sejak April.
- Kenaikan produksi sebelumnya sebagian besar hanya di atas kertas akibat konflik di Selat Hormuz, namun kini jalur ekspor mulai pulih berkat upaya diplomatik AS dan Iran.
- Harga minyak mentah Brent kembali ke level pra-konflik di sekitar US$72 per barel, menekan prospek pendapatan negara eksportir termasuk potensi dampak pada harga BBM di Indonesia.

OPEC+ kembali menambah pasokan minyak global dengan menyetujui kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Agustus, langkah yang diambil di tengah pemulihan bertahap jalur ekspor melalui Selat Hormuz dan tekanan harga minyak yang terus menurun.
Keputusan ini diumumkan dalam pertemuan daring pada Minggu (5/7) dan merupakan bagian dari rencana pelonggaran pemangkasan produksi yang telah berlangsung sejak April. Tujuh anggota inti OPEC+โyang meliputi Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Omanโtelah meningkatkan kuota mereka hampir 800.000 bph dalam empat bulan terakhir. Namun, realisasi di lapangan masih jauh dari target karena konflik bersenjata di kawasan Teluk yang sempat menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi ekspor minyak negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.
Menurut data OPEC, produksi kelompok ini mulai pulih pada Juni berkat upaya Amerika Serikat membantu UEA dan anggota lain meningkatkan ekspor. Meskipun pasokan masih di bawah level sebelum konflik, harga minyak telah kembali ke level pra-perang. Tekanan tambahan datang dari menurunnya impor China, meningkatnya ekspor dari produsen non-Timur Tengah, serta pelepasan cadangan strategis global yang dipimpin Badan Energi Internasional (IEA).
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai langkah OPEC+ sudah sesuai ekspektasi pasar. "Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak kapal tanker yang berhasil melintasi Selat Hormuz dan seberapa cepat permintaan serta impor minyak China pulih," ujarnya. Kesepakatan nota kesepahaman antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang turut meyakinkan para pedagang bahwa pasokan akan kembali normal.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, penurunan harga minyak global berpotensi meringankan beban subsidi BBM dan mengurangi tekanan pada anggaran pendapatan dan belanja negara. Namun, pemulihan pasokan yang belum sepenuhnya stabil serta potensi kenaikan produksi lebih lanjut dari OPEC+ bisa membuat harga minyak tetap rendah dalam jangka pendek, memberi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM nonsubsidi. Di sisi lain, jika konflik geopolitik kembali memanas, risiko lonjakan harga tetap mengintai.
OPEC+ juga menghadapi tantangan internal setelah UEA hengkang dari aliansi pada akhir April. Negara itu ingin menyesuaikan kapasitas produksinya tanpa dibatasi kuota kelompok. Irak pun dilaporkan menginginkan kuota yang lebih tinggi. Dengan keluarnya UEA, tujuh anggota inti kini mengelola sendiri pelonggaran pemangkasan. Jika pada pertemuan berikutnya 2 Agustus mereka kembali menaikkan kuota dengan besaran serupa, maka pemangkasan 1,65 juta bph yang disepakati pada 2023 akan sepenuhnya dipulihkan. Pertanyaannya, mampukah pasar menyerap tambahan pasokan tersebut tanpa membuat harga minyak jatuh lebih dalam?



