Tiga Putra Pemimpin Iran yang Tewas Hadiri Pemakaman, Penerus Tak Terlihat
Baca dalam 60 detik
- Tiga putra Ayatollah Ali Khamenei hadir dalam prosesi pemakaman, sementara Mojtaba Khamenei yang ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi baru tidak muncul di publik.
- Mojtaba dilaporkan mengalami luka parah di wajah dan kaki akibat serangan udara AS-Israel yang menewaskan ayahnya dan anggota keluarga lain pada 28 Februari.
- Ketidakhadiran Mojtaba memicu spekulasi tentang kondisi kesehatannya dan stabilitas transisi kekuasaan di tengah gencatan senjata yang rapuh.

Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel, diwarnai ketidakhadiran putranya yang ditunjuk sebagai penerus, Mojtaba Khamenei. Televisi negara memperlihatkan tiga putra lainnya—Mostafa, Meysam, dan Masoud—turut mendoakan jenazah ayah mereka di kompleks Masjid Agung Imam Khomeini, Tehran, Minggu (5/7), namun Mojtaba tak tampak.
Ketiadaan Mojtaba di ruang publik untuk pertama kalinya sejak serangan 28 Februari lalu menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi fisiknya. Sumber-sumber di lingkaran dalamnya mengungkapkan kepada Reuters bahwa wajah Mojtaba mengalami luka serius dan salah satu atau kedua kakinya cedera parah. Sejak peristiwa itu, tidak ada satu pun gambar atau penampakan dirinya yang dirilis, memperkuat spekulasi bahwa ia masih dalam pemulihan intensif.
Gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan koalisi pimpinan AS telah menghentikan perang selama empat bulan, namun ketidakpastian transisi kepemimpinan di Tehran menjadi sorotan. Seorang pelayat wanita yang kecewa mengaku berharap dapat melihat pemimpin baru tersebut. “Sampai menit terakhir sebelum doa dimulai, saya terus berkata pada orang-orang di sekitar bahwa saya berharap (Mojtaba) sendiri datang. Itu satu-satunya harapan kami,” ujarnya kepada kantor berita semi-resmi Tasnim.
Perang yang dipicu serangan udara AS-Israel pada akhir Februari telah menewaskan puluhan pemimpin senior Iran, termasuk Ayatollah Khamenei dan sejumlah anggota keluarganya. Meskipun mengalami kerugian besar, Iran berhasil melancarkan serangan balasan ke pangkalan AS di kawasan, mengendalikan Selat Hormuz, dan memicu lonjakan harga energi global. Presiden AS Donald Trump mengakui tekanan ekonomi itu mendorongnya mempercepat perundingan damai.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas harga minyak dan pasokan energi nasional. Penguasaan Iran atas Selat Hormuz—jalur transit seperlima konsumsi minyak dunia—menjadi pengingat kerentanan rantai pasok energi Indonesia. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah kerap mempengaruhi harga bahan bakar domestik dan nilai tukar rupiah. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika transisi kepemimpinan Iran karena setiap perubahan kebijakan luar negeri Tehran dapat berdampak pada pasar energi global.
Prosesi pemakaman direncanakan berlangsung selama sepekan, termasuk iring-iringan ke kota suci Qom, lalu ke Irak untuk upacara di Najaf dan Karbala, sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad. Pemerintah Iran memobilisasi jutaan orang dengan menyediakan transportasi, makanan, dan akomodasi. Sementara itu, perundingan damai yang sempat dijeda selama acara pemakaman, menurut Trump, akan dilanjutkan pekan depan.
Pertanyaan besar kini mengemuka: mampukah Mojtaba Khamenei, yang masih dalam pemulihan, mengambil alih tampuk kepemimpinan di tengah tekanan internal dan eksternal? Atau justru ketidakhadirannya akan membuka celah bagi perebutan kekuasaan di kalangan elit Iran? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan Iran—dan stabilitas kawasan—dalam beberapa bulan ke depan.



