Dibayar Rp23 Miliar untuk Menjauh: Penulis Basic Instinct Buka Suara soal Sekuel dan Reboot
Baca dalam 60 detik
- Joe Eszterhas mengaku menerima US$1,5 juta agar tidak terlibat dalam Basic Instinct 2 yang ia nilai sebagai film polisi biasa tanpa kontroversi.
- Penulis asli kembali menulis skenario reboot yang akan menghadirkan karakter Catherine Tramell dan putrinya, dengan janji tetap memicu perdebatan.
- Proyek baru ini dikembangkan oleh United Artists dan Amazon MGM Studios, menandai kembalinya film berani di tengah industri yang dianggap semakin lunak.

Tiga dekade setelah Basic Instinct mengguncang bioskop dunia, penulis skenario aslinya, Joe Eszterhas, mengungkap bahwa ia dibayar US$1,5 juta—setara Rp23 miliar—untuk tidak menyentuh sekuel tahun 2006. Kini di usia 81 tahun, ia kembali dipercaya menulis ulang waralaba kontroversial itu, dengan janji bahwa versi terbaru akan mengulang resep provokatif yang membuat film pertama menjadi fenomena global.
Dalam wawancara dengan Interview magazine, Eszterhas mengecam Basic Instinct 2 yang ia sebut sebagai "film polisi biasa yang membosankan". Menurutnya, sekuel yang berlatar London itu kehilangan humor, bumbu, dan ketajaman yang membuat orisinalnya ikonik. "Mereka tidak ingin kontroversi," ujarnya, seraya menambahkan bahwa produser memilih jalan aman dan menghasilkan tontonan yang hambar.
Fakta bahwa Eszterhas dibayar mahal untuk menjauh justru menjadi ironi. Ia menyebut uang itu "mudah" karena ia yakin pihak studio tidak berniat mengambil risiko kreatif seperti film pertama. Sekuel tersebut akhirnya ditulis oleh Leora Barish dan Henry Bean, dan gagal mengulang kesuksesan pendahulunya baik secara kritik maupun komersial.
Kini, Eszterhas kembali ke meja naskah untuk reboot yang sedang digarap oleh Scott Stuber di bawah bendera United Artists dan Amazon MGM Studios. Ia memastikan bahwa Catherine Tramell—diperankan oleh Sharon Stone—akan kembali, dan kali ini ditemani oleh putrinya yang bernama Jezebel. Meski enggan membeberkan detail, ia menjamin bahwa dialog-dialog dalam film akan membuat penonton bertanya, "Apa aku baru saja mendengar itu?"
Bagi penonton Indonesia, kembalinya Basic Instinct bisa menjadi angin segar di tengah industri film yang cenderung steril. Di era di mana platform streaming seperti Netflix dan Disney+ mendominasi, film dengan konten dewasa yang berani masih memiliki pangsa pasar tersendiri. Namun, sensor ketat di Indonesia bisa menjadi tantangan—adegan ikonik seperti interogasi dengan kaki menyilang mungkin harus melalui suntingan. Meski begitu, popularitas film orisinal di kalangan penggemar film klasik di Tanah Air tetap tinggi, terutama di komunitas sinefil.
Eszterhas menegaskan bahwa ia tidak takut kontroversi. "Salah satu hal yang membuat film pertama sukses adalah kontroversi yang sudah berlangsung berbulan-bulan sebelum rilis. Ada protes di New York dan Los Angeles," kenangnya. Ia juga mengkritik tren perfilman saat ini yang dianggapnya semakin "lunak dan memutih". "Naskah saya untuk sekuel ini justru sebaliknya," tegasnya.
Pertanyaan besarnya: akankah Basic Instinct yang baru mampu mengulang guncangan seperti pendahulunya, atau justru terjebak dalam nostalgia? Dengan kembalinya penulis asli dan janji kontroversi, publik tampaknya akan kembali menyaksikan pertarungan antara seni dan sensor—baik di Hollywood maupun di Indonesia.



