Asing Cabut Rp2,73 Triliun dari Pasar Saham, Bank Besar Paling Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Investor asing membukukan aksi jual bersih Rp2,73 triliun pada pekan terakhir Juni hingga awal Juli 2026, dengan saham perbankan jumbo menjadi sasaran utama.
- BBRI, BBCA, dan BMRI mencatat net sell terbesar, sementara MAPI, ASII, dan TLKM juga masuk daftar jual bersih asing.
- IHSG terkoreksi tipis 0,35% di tengah penurunan rata-rata nilai transaksi harian hingga 35,9%, menandakan likuiditas pasar yang menyusut.

Investor asing kembali memperlihatkan sikap hati-hati di bursa saham Indonesia dengan mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp2,73 triliun sepanjang periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Aksi ini menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 0,35% ke level 5.875,78, meskipun sempat mencatat penguatan di tiga dari lima hari perdagangan.
Data perdagangan di seluruh pasar menunjukkan bahwa saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi kontributor utama aksi jual asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi yang paling tertekan dengan net sell mencapai Rp1,08 triliun. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar Rp655,2 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) senilai Rp363,2 miliar. Tekanan jual di sektor perbankan mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga dan pertumbuhan kredit di tengah ketidakpastian global.
Selain perbankan, saham-saham siklikal dan telekomunikasi juga tidak luput dari aksi jual. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) mencatat net sell Rp227,5 miliar, diikuti PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar Rp195,2 miliar, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) senilai Rp143,3 miliar. Pelemahan daya beli dan ekspektasi perlambatan ekonomi domestik menjadi faktor yang mendorong investor mengurangi eksposur di sektor-sektor tersebut.
Di tengah aksi jual asing, aktivitas perdagangan di bursa menunjukkan perlambatan signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian turun 35,9% menjadi Rp11,27 triliun dari Rp17,58 triliun pada pekan sebelumnya. Volume transaksi harian juga merosot 30,35% menjadi 17,54 miliar saham. Penurunan likuiditas ini mengindikasikan minimnya minat beli, baik dari investor domestik maupun asing, sehingga tekanan jual semakin terasa.
Menariknya, meskipun asing melakukan aksi jual bersih, porsi transaksi investor asing justru meningkat dari 31% menjadi 41% dari total perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun asing menjual, mereka tetap aktif bertransaksi, sementara investor domestik cenderung wait and see. Nilai transaksi investor domestik tercatat Rp66,07 triliun, lebih besar dibandingkan asing yang mencapai Rp46,62 triliun.
Bagi investor Indonesia, aksi jual asing ini menjadi sinyal untuk mencermati fundamental emiten, terutama di sektor perbankan dan siklikal. Pelemahan IHSG dan menyusutnya likuiditas bisa menjadi peluang bagi investor dengan horizon jangka panjang untuk akumulasi, namun risiko volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tekanan jual asing akan berlanjut atau hanya bersifat sementara seiring dengan ekspektasi kebijakan moneter global yang lebih jelas.



