Naira Menguat, Celah Kurs Resmi dan Pasar Gelap Nigeria Menyempit
Baca dalam 60 detik
- Selisih kurs naira di pasar resmi dan informal menyusut menjadi 20 naira per dolar AS, dari sebelumnya 25 naira, seiring penguatan di kedua segmen.
- Cadangan devisa Nigeria naik ke 51,46 miliar dolar AS, didorong aliran masuk dari investor portofolio asing dan eksportir, mengurangi intervensi bank sentral.
- Tekanan harga minyak mentah global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed turut mempengaruhi sentimen pasar valas Nigeria ke depan.

Selisih nilai tukar naira antara pasar resmi dan informal di Nigeria menyempit menjadi 20 naira per dolar AS, setelah mata uang negara Afrika Barat itu menguat di kedua segmen. Pergerakan ini menandai langkah maju dalam upaya bank sentral menyatukan kurs yang selama ini terbelah lebar.
Di pasar valas resmi, naira ditutup di level 1.370 per dolar AS, menguat 10 poin dibanding pekan sebelumnya yang berada di 1.380. Sementara itu, di pasar gelap atau parallel market, naira terapresiasi 15 naira menjadi 1.390 per dolar AS. Perbaikan likuiditas valas di jendela resmi dan menurunnya permintaan pembayaran luar negeri menjadi pendorong utama penguatan ini.
Bank Sentral Nigeria (CBN) mencatat cadangan devisa bruto negara itu mencapai 51,46 miliar dolar AS pada akhir pekan lalu. Angka ini naik setelah serangkaian aliran masuk dari berbagai sumber, termasuk investor portofolio asing, eksportir, dan korporasi non-perbankan. Dengan cadangan yang terus membesar, CBN diperkirakan mengurangi intervensi langsung di pasar valas, sebuah langkah yang dinilai positif oleh para analis untuk mencapai fleksibilitas kurs yang lebih alami.
Di sisi global, tekanan harga minyak mentah terus mereda seiring negosiasi yang berlarut antara Amerika Serikat dan Iran. Brent ditutup di 71 dolar AS per barel, sementara WTI di 67 dolar AS pada akhir pekan. Pelemahan harga minyak ini menjadi perhatian bagi Nigeria yang sangat bergantung pada pendapatan migas. Namun, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, yang berpotensi mengalirkan modal ke pasar negara berkembang seperti Nigeria.
Bagi Indonesia, dinamika pasar valas Nigeria memberikan gambaran tentang tantangan serupa dalam mengelola kurs di tengah tekanan eksternal. Meski Indonesia tidak mengalami dual market yang ekstrem seperti Nigeria, upaya Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi dan pengelolaan cadangan devisa memiliki benang merah. Aliran modal asing yang sensitif terhadap suku bunga global juga menjadi faktor yang perlu dicermati oleh otoritas moneter di Tanah Air.
Ke depan, pasar akan memantau apakah CBN dapat mempertahankan tren konvergensi kurs tanpa mengorbankan cadangan devisa. Pertanyaan besarnya, akankah naira mampu bertahan di level saat ini jika tekanan harga minyak berlanjut dan The Fed benar-benar memangkas suku bunga? Jawabannya akan menentukan sejauh mana Nigeria berhasil keluar dari jerat ketidakstabilan nilai tukar yang telah lama membelit ekonominya.



