Eropa Terbakar: Kebakaran Hutan Melanda Empat Negara, Suhu Capai 40 Derajat
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di Portugal, Spanyol, Prancis, dan Yunani telah menghanguskan lebih dari 42.000 hektar lahan, memaksa ribuan warga mengungsi.
- Gelombang panas yang memicu kebakaran terjadi sebulan lebih awal dari musim panas biasanya, menimbulkan kekhawatiran akan musim kebakaran yang panjang.
- Para ilmuwan mengaitkan peristiwa ini dengan perubahan iklim, yang membuat gelombang panas ekstrem 'hampir mustahil' terjadi tanpa pemanasan global.

Gelombang panas yang melanda Eropa selatan pada awal Juli 2026 memicu kebakaran hutan dahsyat di empat negara sekaligus, menghanguskan lebih dari 42.000 hektar lahan—luas dua kali lipat Manhattan—dan memaksa ribuan penduduk meninggalkan rumah mereka di tengah malam. Suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celcius di sejumlah wilayah, memperparah upaya pemadaman yang dilakukan ratusan petugas pemadam kebakaran.
Di Prancis, lebih dari 700 petugas berjibaku mengendalikan api yang mengancam etape ketiga Tour de France di Pyrenees. Kobaran api telah membakar 1.500 hektar di lereng gunung Trevillach, sekitar 70 kilometer dari garis finis etape tersebut. Prefek setempat Pierre Regnault de la Mothe menyatakan keputusan mengenai kelanjutan balapan akan diambil pada Minggu (5/7). Sementara itu, 300 petugas lainnya bertempur melawan api di distrik pegunungan Drome, tenggara Prancis.
Di Yunani, api yang dipicu kebakaran hutan melalap dua pabrik di Thessaloniki, kota terbesar kedua negara itu. Asap hitam pekat dari pabrik daur ulang dan kompleks pengolahan minyak menyebar luas, memaksa otoritas meminta warga menutup jendela untuk menghindari risiko keracunan. Evakuasi besar-besaran dilakukan di area sekitar.
Spanyol mencatat kebakaran di dekat pesisir Costa Brava yang membakar lebih dari 2.200 hektar dalam dua hari. Petugas pemadam mengaku upaya mereka akan semakin rumit akibat suhu yang terus naik dan banyaknya titik api di dalam perimeter kebakaran. Di Portugal, layanan darurat mengklaim telah mengendalikan 80 persen kebakaran yang menghanguskan sekitar 13.000 hektar hutan dan semak belukar di utara negara tersebut.
Kebakaran ini terjadi tak lama setelah gelombang panas pada Juni 2026, yang oleh kelompok ilmuwan World Weather Attribution dinilai sebagai salah satu yang terburuk di Eropa. Mereka menyatakan peristiwa itu “hampir mustahil” terjadi tanpa perubahan iklim. Kolonel Eric Belgioino dari dinas pemadam kebakaran Prancis memperingatkan, “Perubahan iklim sudah di sini, kita sedang merasakan konsekuensinya, dan ini baru awal Juli. Musim ini akan panjang bagi para petugas pemadam. Anda harus membantu kami.”
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim yang juga dirasakan di dalam negeri. Kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan kerap terjadi pada musim kemarau, dipicu oleh praktik pembukaan lahan dan cuaca ekstrem. Gelombang panas di Eropa menunjukkan bahwa fenomena serupa dapat meningkat frekuensi dan intensitasnya di Indonesia, mengancam kesehatan masyarakat, produktivitas pertanian, dan kualitas udara. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin tidak terduga.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara Eropa dan dunia mampu beradaptasi cukup cepat dengan realitas iklim baru ini. Dengan musim kebakaran yang dimulai lebih awal dan berlangsung lebih lama, tekanan pada sumber daya pemadam kebakaran dan sistem kesehatan akan semakin besar. Apakah langkah-langkah mitigasi yang ada saat ini sudah memadai, ataukah diperlukan transformasi kebijakan yang lebih radikal?



