Singapura Siapkan Jalur Khusus Visa dan Insentif Pajak untuk Tarik Pengelola Dana Global
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Moneter Singapura (MAS) meluncurkan Investment Management Track di bawah kerangka ONE Pass untuk menarik profesional investasi senior global.
- Pemerintah Singapura juga menyiapkan pembebasan pajak atas imbal hasil investasi dan program investasi khusus hedge fund untuk memperkuat posisi sebagai pusat manajemen aset.
- Langkah ini diambil di tengah persaingan ketat dengan Hong Kong, yang mencatat lonjakan aset kelolaan hingga 20 persen tahun lalu.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengumumkan serangkaian kebijakan baru pada Rabu (19/8) untuk memperkokoh posisi negeri itu sebagai pusat manajemen aset global. Langkah paling menonjol adalah pembukaan jalur khusus izin kerja bagi profesional investasi senior, plus insentif pajak yang menyasar imbal hasil investasi. Kebijakan ini dirancang untuk menjawab persaingan ketat antarnegara dalam merebut talenta dan modal, terutama dari Hong Kong.
Jalur baru yang dinamakan Investment Management Track ini berada di bawah kerangka ONE Pass, skema visa yang sebelumnya ditujukan bagi talenta unggul di bidang bisnis, seni, olahraga, akademik, dan riset. Bedanya, jalur ini secara spesifik mengincar pemimpin global dan profesional investasi senior yang dinilai punya potensi besar untuk mengembangkan industri manajemen aset Singapura. Menurut data MAS, sektor ini menyumbang sekitar 15 persen dari output sektor keuangan dan 13 persen dari total lapangan kerja di negara tersebut.
Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Chee Hong Tat, yang juga menjabat wakil ketua MAS, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk memperkuat daya saing Singapura sebagai hub keuangan yang "tepercaya, dinamis, dan kompetitif secara global". Ia menyebut industri manajemen aset telah tumbuh rata-rata 7,5 persen per tahun dalam lima tahun terakhir, dengan total aset kelolaan mencapai hampir S$7 triliun (sekitar US$5,5 triliun). Sektor ini juga menyerap 25.000 tenaga kerja, di mana 80 persen di antaranya adalah warga lokal.
"Kami ingin terus menumbuhkan sektor ini sebagai bagian dari rencana memperkuat posisi Singapura sebagai pusat keuangan internasional," ujar Chee. Ia menambahkan bahwa detail teknis kebijakan akan difinalisasi pada Anggaran 2027, sehingga para pelaku industri dapat mempertimbangkan langkah ini dalam menentukan lokasi pengembangan bisnis mereka.
Salah satu perubahan signifikan dalam Investment Management Track adalah penyesuaian penilaian gaji. Jika sebelumnya calon pemegang ONE Pass harus memiliki gaji bulanan minimal S$30.000 dari satu pemberi kerja, kini otoritas akan mempertimbangkan struktur kompensasi yang lazim di industri pengelolaan dana, termasuk imbal hasil yang terkait dengan kinerja investasi dan hasil dana. Ini menjadi penting karena bagi para manajer dana khusus, imbal hasil tersebut merupakan komponen kompensasi yang signifikan dan berulang, bukan sekadar gaji pokok.
Selain itu, MAS bersama Kementerian Keuangan (MOF) berencana memberikan pembebasan pajak atas imbal hasil yang diperoleh dari pengelolaan dana yang memenuhi syarat. Insentif ini hanya berlaku untuk bagian keuntungan investasi yang dihasilkan oleh manajer dana dan profesional investasi ketika mereka memberikan imbal hasil yang kuat bagi investor. Pajak tidak berlaku untuk gaji biasa, bonus, atau bentuk remunerasi karyawan lainnya. Menurut MAS, dana yang memenuhi syarat sudah diwajibkan memenuhi persyaratan substansi ekonomi, termasuk jumlah karyawan minimum. Kebijakan ini dijadwalkan berlaku pada tahun penilaian 2027, dengan detail lebih lanjut akan diumumkan pada Anggaran 2027.
MAS juga akan meluncurkan program investasi khusus untuk hedge fund. Program ini bertujuan untuk berinvestasi bersama para manajer hedge fund yang berkomitmen membangun atau memperdalam kehadiran mereka di Singapura. Dengan demikian, ekosistem investasi hedge fund di Singapura diharapkan tumbuh, termasuk penyedia layanan pendukung dan prime brokerage, sekaligus menjaring manajer hedge fund global dan regional beserta talenta investasinya.
Langkah ini tidak lepas dari persaingan dengan Hong Kong, yang tahun lalu mencatat lonjakan aset kelolaan hingga 20 persen menjadi rekor HK$42,2 triliun (sekitar S$6,8 triliun). Namun, Chee Hong Tat menampik anggapan bahwa persaingan dengan Hong Kong bersifat zero-sum. "Kami percaya kawasan ini cukup besar. Ada ruang yang cukup bagi kedua kota untuk tumbuh sebagai pusat keuangan. Kami perlu memperhatikan lanskap global dalam meninjau dan menyesuaikan kebijakan kami. Kami tidak berpikir daya saing hanya bertumpu pada satu faktor, misalnya pajak, tetapi itu adalah bagian dari pertimbangan keseluruhan," jelasnya.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menjadi sinyal penting. Singapura selama ini menjadi salah satu tujuan utama bagi para pengelola dana dan investor Indonesia, baik untuk penempatan aset maupun pengembangan karier di industri keuangan. Dengan adanya insentif pajak dan kemudahan visa ini, Singapura semakin menarik bagi talenta manajemen investasi Indonesia yang ingin berkarier di kancah global. Di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan bagi Indonesia untuk terus meningkatkan daya saing sektor keuangannya, baik dari segi regulasi maupun insentif, agar tidak kehilangan talenta dan modal ke negara tetangga.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada detail implementasi yang akan diumumkan pada Anggaran 2027. Pertanyaannya, apakah insentif ini cukup untuk menggeser dominasi Hong Kong yang selama ini menjadi pusat manajemen aset di Asia? Atau justru akan memicu perang insentif yang semakin tajam antarnegara di kawasan? Yang jelas, Singapura menunjukkan keseriusannya untuk tetap relevan di tengah dinamika persaingan global.



