Krisis FIFA: Bos Premier League Desak Kandidat Baru dan Reformasi Tata Kelola
Baca dalam 60 detik
- Richard Masters menilai FIFA butuh kandidat presiden alternatif yang mampu menyatukan konfederasi, menyusul kekacauan rencana investasi Piala Dunia.
- Liga Inggris menegaskan tidak pernah tergoda skema investasi swasta ala Infantino, bahkan saat pandemi, karena model bisnisnya dianggap sudah mapan.
- Musim baru Premier League dibayangi transisi besar dengan kepergian Guardiola dan sejumlah bintang, membuka peluang munculnya wajah-wajah baru.

Kekacauan internal FIFA kembali menjadi sorotan setelah CEO Premier League, Richard Masters, secara terbuka menyerukan perlunya kandidat presiden baru yang mampu merangkul seluruh konfederasi sepak bola dunia. Pernyataan ini muncul di tengah kritik tajam terhadap kepemimpinan Gianni Infantino, terutama setelah rencana kontroversial untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia gagal total. Masters menilai momen ini adalah titik krusial bagi FIFA untuk melakukan introspeksi dan perubahan mendasar.
Dalam sambutannya menjelang pembukaan musim Premier League, Masters menegaskan bahwa krisis ini seharusnya menjadi momentum bagi lahirnya figur alternatif sebelum batas akhir pencalonan yang jatuh pada 18 Maret. Ia menekankan bahwa tawaran yang diajukan nantinya harus mampu menyatukan berbagai kepentingan konfederasi, bukan justru memperlebar jurang perbedaan. โYang jelas dibutuhkan sekarang adalah munculnya kandidat lain dengan penawaran baru dan berbeda, yang diharapkan bisa mempersatukan konfederasi,โ ujarnya kepada wartawan.
Lebih lanjut, Masters menyoroti perlunya reformasi tata kelola di FIFA, termasuk evaluasi ulang terhadap kekuasaan presiden. Ia menggarisbawahi bahwa perubahan tidak boleh didikte oleh Eropa semata, melainkan harus melibatkan seluruh anggota. โBukan berarti orang Eropa yang menentukan apa yang harus direformasi dan bagaimana caranya. Tetapi, pada titik ini, sudah sepantasnya kita melihat struktur tata kelola dan peran presiden, termasuk kekuasaan yang dimilikinya, bahkan jika orang yang datang itu berniat mereformasi deskripsi pekerjaannya sendiri,โ kata Masters.
Masters juga menegaskan bahwa Premier League tidak pernah mempertimbangkan untuk menjual sebagian hak komersialnya kepada investor swasta, berbeda dengan langkah yang sempat dicoba Infantino. Bahkan ketika pandemi COVID-19 melanda dan klub-klub mengalami tekanan finansial, liga tetap bertahan dengan model bisnis yang ada. โModel Premier League bekerja sangat baik. Kami sukses di bisnis hak siar dan memiliki pangsa pasar yang fantastis. Tidak ada kebutuhan bagi kami untuk mencari investasi dari luar,โ jelasnya.
Di tengah hiruk-pikuk politik FIFA, Premier League sendiri bersiap menghadapi musim baru yang penuh ketidakpastian. Kepergian pelatih legendaris Manchester City, Pep Guardiola, serta hengkangnya sejumlah pemain bintang seperti Rodri dan Mohamed Salah, menandai berakhirnya sebuah era. Sebaliknya, hadirnya sembilan manajer baru memberikan warna berbeda pada kompetisi. Masters menyambut transisi ini sebagai peluang bagi munculnya bintang-bintang baru. โSatu era berakhir dan era baru muncul. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang akan menjadi nama besar berikutnya, tetapi mereka pasti akan muncul,โ katanya optimistis.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, perubahan kepemimpinan FIFA akan berdampak pada kebijakan global, termasuk alokasi tiket Piala Dunia dan program pengembangan sepak bola di Asia Tenggara. Konflik kepentingan di FIFA selama ini sering kali menghambat pemerataan kesempatan bagi negara berkembang. Oleh karena itu, munculnya kandidat yang mampu menyatukan konfederasi bisa menjadi angin segar bagi sepak bola Indonesia yang tengah berbenah.
Pertanyaan besarnya, akankah ada figur yang berani maju dan membawa perubahan nyata? Atau justru status quo akan bertahan, meninggalkan FIFA dalam pusaran kritik yang semakin dalam? Musim depan akan menjadi ujian tidak hanya bagi Premier League, tetapi juga bagi masa depan tata kelola sepak bola dunia.



