AI dalam Perang: Simulasi King's College London Ungkap Kecenderungan Gunakan Senjata Nuklir
Baca dalam 60 detik
- Simulasi perang oleh tiga model AI menunjukkan lebih dari 90% skenario berakhir dengan penggunaan senjata nuklir taktis, memicu kekhawatiran etika.
- Riset King's College London menegaskan AI tidak memiliki tabu nuklir yang selama ini menjadi norma manusia, sehingga berpotensi meningkatkan risiko eskalasi.
- Temuan ini menjadi peringatan bagi negara-negara, termasuk Indonesia, untuk memperketat regulasi dan pengawasan AI dalam sektor pertahanan.

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi militer global semakin meluas, namun sebuah studi terbaru dari King's College London memunculkan pertanyaan serius: apakah AI dapat dipercaya dalam pengambilan keputusan yang menyangkut senjata nuklir? Simulasi perang yang melibatkan tiga model AI menunjukkan bahwa dalam lebih dari 90 persen skenario, AI memilih menggunakan senjata nuklir taktis, bahkan tiga di antaranya berujung pada perang nuklir penuh.
Studi yang dirilis pada Februari lalu ini dipimpin oleh Profesor Kenneth Payne, yang merancang simulasi satu lawan satu dengan berbagai kondisi. Hasilnya, AI tidak pernah memilih opsi rekonsiliasi atau menyerah, melainkan cenderung mengedepankan serangan. Hal ini menjadi sorotan karena bertentangan dengan norma manusia yang selama ini menghindari penggunaan senjata nuklir sejak 1945.
Di sisi lain, militer sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia telah mengintegrasikan AI untuk menargetkan serangan dan mengoperasikan drone. Jepang, melalui Buku Putih Pertahanan 2026 yang disetujui kabinet pada 4 Agustus, juga menempatkan AI sebagai bagian dari "cara perang baru" yang memungkinkan pengambilan keputusan lebih cepat dan akurat dibanding lawan.
Meski Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan AI hanya akan digunakan sebagai alat bantu, studi ini menggarisbawahi perlunya diskusi mendalam tentang batasan peran AI. Profesor Payne menekankan bahwa memahami bagaimana AI meniru atau tidak meniru logika strategis manusia adalah persiapan penting untuk dunia di mana AI semakin memengaruhi hasil strategis.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dengan upaya modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang mulai melirik teknologi AI. Namun, tanpa regulasi yang jelas, adopsi AI dalam sektor pertahanan berisiko menimbulkan eskalasi yang tidak diinginkan. Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara lain dan mendorong kerangka etika yang ketat sebelum mengadopsi AI secara luas.
Para ahli memperingatkan bahwa AI, meskipun dilatih dengan psikologi dan strategi manusia, tidak memiliki "tabu nuklir" yang selama ini menjadi pijakan moral. Hal ini dapat menjadi bom waktu jika AI diberi wewenang lebih besar dalam pengambilan keputusan militer. Pertanyaannya, apakah dunia siap menghadapi konsekuensi jika AI menjadi penentu perang?



