Bursa Malaysia Dorong Perusahaan Besar Lakukan Pencatatan Ganda di Hong Kong: Peluang Baru bagi IPO Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Otoritas jasa keuangan Malaysia tengah mendekati perusahaan besar yang belum tercatat untuk melantai di bursa domestik sekaligus Hong Kong, guna menjangkau investor global lebih luas.
- Skema ini memungkinkan prospektus IPO yang disetujui di Malaysia diakui langsung di Hong Kong, memangkas biaya dan kerumitan administrasi bagi emiten.
- Langkah ini sejalan dengan upaya regionalisasi pasar modal dan bisa menjadi preseden bagi bursa-bursa Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam menarik minat investor asing.

Otoritas Jasa Keuangan Malaysia, Securities Commission (SC), tengah mengidentifikasi perusahaan-perusahaan besar yang belum tercatat di bursa untuk didorong melakukan pencatatan ganda (dual listing) di Kuala Lumpur dan Hong Kong. Inisiatif ini dirancang untuk memperluas akses emiten ke kancah investor internasional, sekaligus memperkuat posisi Malaysia sebagai hub keuangan regional.
Ketua SC, Datuk Mohammad Faiz Azmi, mengungkapkan bahwa kerja sama dengan Hong Kong memungkinkan prospektus IPO yang telah disetujui di Malaysia diakui langsung di bursa Hong Kong tanpa perlu menyusun dokumen terpisah. "Kami menargetkan perusahaan non-tercatat berkapitalisasi besar dengan pertanyaan: bukankah menarik jika IPO Anda juga berlangsung di Hong Kong secara bersamaan?" ujarnya dalam pidato di SC Penang Semicon Roadshow bertajuk Powering SemiCons: Financing Your Next Breakthrough, Rabu (20/8).
Langkah ini bukan sekadar perluasan pasar, tetapi juga pengakuan atas kredibilitas kerangka regulasi pasar modal Malaysia. Dengan pengakuan prospektus timbal balik, perusahaan dapat menghemat biaya signifikan yang biasanya dibutuhkan untuk menyusun dua prospektus terpisah. Bagi emiten, ini berarti proses IPO yang lebih efisien dan waktu yang lebih singkat untuk mengakses dua bursa sekaligus.
Inisiatif ini sejalan dengan Capital Market Masterplan yang berfokus pada penciptaan peluang regional dan membantu perusahaan Malaysia meraih investor global. Namun, di balik itu, ada pesan strategis: perusahaan semikonduktor Malaysia, yang menjadi tulang punggung industri global, didorong untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan pertumbuhan. Mohammad Faiz menekankan bahwa pembiayaan perbankan tradisional memiliki keterbatasan, terutama untuk proyek inovasi terobosan dengan periode pengembalian panjang. Alternatif seperti equity crowdfunding, peer-to-peer financing, modal ventura, hingga penerbitan obligasi korporasi menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan sesuai tahap pertumbuhan perusahaan.
Bagi Indonesia, langkah Malaysia ini menjadi sinyal penting. Bursa Efek Indonesia (BEI) selama ini juga gencar menarik perusahaan teknologi dan unicorn untuk melantai di dalam negeri. Namun, skema pengakuan prospektus timbal balik seperti yang dijalin Malaysia-Hong Kong belum ada. Jika Indonesia ingin bersaing memperebutkan minat investor global, kerja serupa dengan bursa regional seperti Singapura atau Hong Kong bisa menjadi pertimbangan. Namun, hal ini membutuhkan harmonisasi regulasi yang tidak mudah, mengingat perbedaan standar akuntansi dan pengawasan.
Di sisi lain, dorongan untuk memanfaatkan pasar modal di sektor semikonduktor juga relevan bagi Indonesia. Meski industri semikonduktor dalam negeri belum sebesar Malaysia, ekosistem startup teknologi dan manufaktur elektronik mulai tumbuh. Akses ke pembiayaan jangka panjang melalui pasar modal bisa menjadi katalis bagi perusahaan-perusahaan ini untuk berekspansi, terutama di tengah tren globalisasi rantai pasok.
Ke depan, keberhasilan inisiatif Malaysia akan menjadi ujian bagi efektivitas kolaborasi lintas bursa di Asia. Apakah skema ini akan diadopsi oleh negara lain? Jika ya, peta persaingan bursa regional bisa berubah, dengan Hong Kong semakin menjadi pintu gerbang bagi perusahaan Asia Tenggara untuk menjangkau investor global. Pertanyaannya, akankah Indonesia mengambil langkah serupa atau justru tertinggal dalam persaingan memperebutkan likuiditas dan minat investor?



