Kolom Gedung Pencakar Langit di Manhattan Melengkung, Ribuan Orang Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Dua kolom struktural di bekas kantor pusat Pfizer di Manhattan melengkung dan lantai ambles, memicu evakuasi massal pada jam sibuk pagi.
- Proyek konversi perkantoran menjadi apartemen mewah seluas 1,3 juta kaki persegi itu diduga menjadi penyebab tekanan berlebih pada struktur bangunan.
- Situasi masih genting dengan pergerakan tambahan terdeteksi, sementara pengembang dan otoritas berselisih soal risiko keruntuhan total.

Dua kolom penopang di sebuah gedung pencakar langit setinggi 37 lantai di Manhattan melengkung dan sejumlah lantai ambles, memaksa evakuasi ribuan orang pada Selasa pagi (7/7) waktu setempat. Bangunan yang sebelumnya menjadi markas besar Pfizer itu tengah menjalani konversi besar-besaran dari perkantoran menjadi apartemen mewah, dan insiden ini langsung menyita perhatian otoritas serta publik.
Wali Kota New York Zohran Mamdani mengonfirmasi bahwa dua kolom struktural telah melengkung, disertai retakan dan lantai yang kendur. โBangunan masih tidak stabil. Sejak tiba di lokasi, kami menyaksikan pergerakan tambahan pada salah satu kolom yang terkompromi,โ ujarnya dalam konferensi pers. Meski demikian, belum ada korban jiwa dan seluruh pekerja konstruksi telah dievakuasi.
Proyek konversi yang digarap pengembang Metroloft ini menargetkan penambahan sekitar 1.600 unit apartemen sewa mewah dengan total luas 1,3 juta kaki persegi. Jika rampung sesuai jadwal awal 2027, proyek ini akan menjadi konversi perkantoran ke residensial terbesar dalam sejarah New York. Namun, para pekerja dan serikat buruh menuding penambahan lantai baru di atas struktur eksisting menjadi pemicu utama kegagalan struktural.
Clifford Johnsen, perwakilan serikat Steamfitters Local 638, menyatakan bahwa penambahan beban dari lantai baru tanpa perhitungan rekayasa yang tepat menyebabkan kolom tidak sanggup menahan tekanan. โSaya sudah 21 tahun di konstruksi, belum pernah lihat balok bengkok separah ini. Ini sangat berbahaya,โ katanya. Seorang pekerja, Fernando Sanchez, 50, menambahkan bahwa balok dari lantai 21 hingga 25 bengkok dan sebagian ambrol, memaksa semua orang keluar cepat.
Otoritas setempat telah menerjunkan drone untuk memantau kerusakan dan menyiapkan penyangga darurat. Jalan-jalan di sekitar Grand Central Station dan markas PBB ditutup, sementara hotel, apartemen, dan sekolah di kawasan itu turut dievakuasi. Stasiun TV lokal PIX11 bahkan harus menghentikan siaran langsung karena studio mereka berada di zona bahaya.
Menariknya, gedung ini berada di koridor transportasi publik yang digunakan untuk mengangkut penggemar sepak bola Piala Dunia dari Manhattan ke Stadion MetLife di New Jersey. Meski tidak ada pertandingan pada Selasa itu, insiden ini menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan infrastruktur di masa mendatang, terutama saat kota menjadi tuan rumah acara besar.
Pengembang Metroloft berusaha meredam kepanikan dengan menyatakan bahwa area yang terdampak hanya sebagian kecil dari satu dari dua bangunan di lokasi tersebut. โSeluruh bangunan tidak berisiko runtuh,โ klaim mereka, merujuk pada pernyataan petugas pemadam kebakaran. Namun, pernyataan ini kontras dengan temuan di lapangan yang menunjukkan pergerakan kolom masih berlanjut.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap proyek konversi gedung tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta yang tengah gencar melakukan revitalisasi kawasan. Kegagalan struktural akibat penambahan beban tanpa kajian mendalam bisa berakibat fatal, dan kasus New York ini membuka mata bahwa risiko serupa bisa terjadi di mana saja.
Pertanyaan besarnya kini: apakah penanganan darurat dan rencana perkuatan yang disusun para insinyur akan cukup untuk menstabilkan bangunan, atau justru akan terulang insiden serupa di masa depan? Satu hal pasti, proyek konversi terbesar di New York ini kini menghadapi ujian terberatnya.



