Geger Bisnis Foto Pernikahan di Singapura Tutup Mendadak, 66 Konsumen Rugi Rp 3,2 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Sebuah studio foto pernikahan bergaya Korea di Singapura menutup operasionalnya tanpa pemberitahuan, memicu gelombang protes dari puluhan calon pengantin yang telah membayar lunas paket mereka.
- Total kerugian yang tercatat mencapai S$271.000 (sekitar Rp3,2 miliar) dari 66 laporan konsumen, dengan banyak korban yang baru menyadari penipuan setelah studio tidak lagi dapat dihubungi.
- Otoritas setempat telah menerima laporan polisi dan investigasi tengah berlangsung, sementara para ahli menyarankan konsumen untuk lebih berhati-hati dengan skema pembayaran di muka dan mencari opsi pembayaran bertahap.

Kabar mengejutkan datang dari industri bridal di Singapura. Korea Artiz Studio, sebuah perusahaan fotografi pernikahan yang mengusung konsep Korea, tiba-tiba menutup operasionalnya pekan ini. Penutupan ini membuat puluhan calon pengantin yang telah membayar paket foto mereka secara penuh kehilangan uang dan momen berharga. Konsumen Association of Singapore (CASE) mencatat setidaknya 66 pengaduan telah masuk, dengan total kerugian mencapai S$271.000 atau setara dengan lebih dari Rp3,2 miliar.
Penutupan mendadak ini menyisakan banyak pertanyaan. Para korban, yang sebagian besar adalah pasangan muda yang berencana menikah, mengaku tidak mendapat pemberitahuan resmi dari pihak studio. Mereka baru mengetahui kabar ini melalui media sosial atau dari mulut ke mulut. Salah satu korban, Lim Ying Xuan (26), mengaku hatinya hancur saat mengetahui studio yang ia percaya untuk mengabadikan momen spesialnya telah tutup tanpa kejelasan. Ia telah membayar S$3.300 untuk paket foto yang tidak pernah ia terima.
Kekhawatiran semakin bertambah karena banyak konsumen yang membayar penuh di muka, seperti yang dialami Glenna Tham (25). Ia baru menyadari penutupan studio saat sedang menjalani perawatan bulu mata, ketika teknisi lash-nya bercerita tentang keluhan di Xiaohongshu. Tham, yang telah membayar sekitar S$3.200, mengaku sangat terkejut dan merasa uangnya telah melayang. Ia berencana melaporkan kasus ini ke polisi dan mengajukan sengketa ke bank, meski ia mengaku tidak terlalu berharap.
Fenomena ini bukan tanpa tanda-tanda peringatan. Beberapa konsumen mengaku sempat mencium kejanggalan, seperti karyawan yang mengeluh gaji tidak dibayar atau penjualan paket yang terus berlanjut meski ada isu internal. Seorang konsumen, Crystal (33), bahkan sempat menanyakan kabar penutupan studio di China beberapa tahun lalu, namun tenaga penjual meyakinkannya bahwa operasional di Singapura aman. Sayangnya, keyakinan itu kini berbalik menjadi kekecewaan.
Menanggapi kasus ini, CASE telah menghubungi pihak studio untuk meminta klarifikasi terkait kelanjutan layanan dan kompensasi bagi konsumen. Presiden CASE, Melvin Yong, yang juga anggota parlemen, mengimbau konsumen untuk lebih berhati-hati dalam memilih paket bridal. Ia menyarankan agar konsumen meminta konfirmasi tertulis, mencatat semua detail, dan jika memungkinkan, membayar secara bertahap sesuai progres layanan. Langkah ini dinilai dapat meminimalisir risiko kerugian jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Bagi konsumen di Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Industri bridal di Tanah Air juga marak dengan penawaran paket foto pernikahan yang menggiurkan. Penting untuk melakukan riset mendalam tentang reputasi studio, membaca kontrak dengan teliti, dan menghindari pembayaran penuh di muka. Skema pembayaran bertahap atau menggunakan jasa pengacara untuk memeriksa kontrak bisa menjadi langkah preventif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Korea Artiz Studio belum memberikan tanggapan resmi. Mereka hanya mengirim pesan singkat kepada pelanggan yang meminta maaf dan menyebut adanya masalah internal. Sementara itu, para korban mulai membentuk komunitas di Telegram untuk saling mendukung dan berbagi informasi. Pertanyaannya, apakah ada mekanisme perlindungan konsumen yang cukup kuat untuk mencegah kejadian serupa terulang, baik di Singapura maupun Indonesia?



