Trump Jadikan Peringatan 250 Tahun AS Panggung Politik, Kampanye Pemilu di Tengah HUT
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump memanfaatkan pidato peringatan 250 tahun kemerdekaan untuk mengampanyekan SAVE America Act dan isu senjata api, meninggalkan tradisi pidato nonpartisan.
- Cuaca ekstrem memaksa evakuasi di National Mall dan pembatalan acara di beberapa kota, namun perayaan tetap berlangsung dengan parade kapal dan pertunjukan udara.
- Pidato Trump yang sarat retorika patriotik dan partisan mencerminkan strategi politik menjelang pemilu paruh waktu November, sekaligus menggeser panitia perayaan yang semula bipartisan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengubah peringatan 250 tahun kemerdekaan negerinya menjadi panggung politik, dengan pidato yang memadukan seruan patriotik dan kampanye partisan di National Mall, Washington, Sabtu (5/7). Dalam sambutan yang semestinya menjadi momen pemersatu bangsa, Trump justru mendorong RUU Pemilu SAVE America Act dan membela hak kepemilikan senjata, sebuah langkah yang dinilai keluar dari tradisi pidato Hari Kemerdekaan yang biasanya netral.
Pidato yang disampaikan setelah badai petir memaksa evakuasi dua jam di National Mall itu menjadi puncak perayaan yang telah direncanakan berbulan-bulan. Trump menghormati para veteran, termasuk anggota tertua dari Perang Dunia II dan salah satu perwira kulit hitam pertama yang memimpin pasukan khusus di Vietnam. Namun, ia juga menyisipkan lelucon tentang kemungkinan mencalonkan diri untuk periode ketiga dan menyebut generasi Perang Dunia II sebagai "generasi terhebat" dengan nada bercanda. "Mereka adalah generasi terhebat. Aku benci mengakuinya, tapi memang begitu," ujarnya.
Keputusan Trump untuk menjadikan pidato kenegaraan sebagai ajang kampanye menuai sorotan. Presiden biasanya menggunakan momen seperti ini untuk menyatukan rakyat, tetapi Trump justru mempromosikan agenda politik yang bahkan menghadapi penolakan dari sesama Partai Republik di Kongres. Ia juga kembali mengecam komunisme, tema yang kian sentral dalam pesan politiknya menjelang pemilu paruh waktu November. Acara tersebut dikelola oleh tim yang dekat dengan Gedung Putih, menggantikan panitia bipartisan yang dibentuk Kongres satu dekade lalu.
Cuaca panas ekstrem yang melanda sebagian besar Pantai Timur AS turut mewarnai perayaan. Suhu di banyak tempat menembus 100 derajat Fahrenheit, memaksa pembatalan acara di Hartford, Harrisburg, dan Wilkes-Barre. Di Washington, pengunjung dievakuasi ke museum dan stasiun kereta bawah tanah. Meski demikian, perayaan tetap berlangsung di sejumlah kota. Di New York, 43 kapal layar tinggi berparade mengelilingi Patung Liberty, diikuti pesawat pengebom siluman dan tim aerobatik Blue Angels. Patrouille de France, tim akrobat Angkatan Udara Prancis, turut memeriahkan dengan membentuk jalur merah-putih-biru di langit.
Di Philadelphia, kota kelahiran bangsa, kembang api mulai terdengar sejak siang hari di dekat Independence Hall. Ribuan pengunjung berkumpul meski cuaca panas, sebagian menonton pertandingan Piala Dunia antara Prancis dan Paraguay di Philadelphia Stadium. "Ini pesta besar di sini," kata Carlos Alban, penggemar sepak bola yang datang dari Chicago. Sementara itu, di Mount Vernon, Virginia, puluhan imigran baru mengucapkan sumpah setia menjadi warga negara AS.
Bagi warga biasa, momen ini menjadi refleksi atas sejarah panjang Amerika. David Koshko, veteran Korps Marinir dari Harrisburg, Pennsylvania, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari perayaan 250 tahun. "Hanya untuk menjadi bagian dari peringatan 250 tahun adalah hal yang luar biasa," katanya. Namun, di tengah kemeriahan, muncul suara kritis dari generasi muda. JayLn Dortch, 23 tahun, asal Phoenix, Arizona, berharap negaranya tidak melupakan rakyat pekerja keras yang "menjaga Amerika tetap berjalan."
Pertanyaannya, akankah peringatan bersejarah ini benar-benar menyatukan bangsa yang terpolarisasi, atau justru menjadi cermin perpecahan yang kian dalam? Dengan Trump yang terus menggunakan simbol patriotik untuk kepentingan politik, masa depan tradisi Hari Kemerdekaan sebagai ajang pemersatu patut dipertanyakan.



