Ekspor E-Bike China Melonjak 31,5%, Pasar Asia Jadi Medan Pertarungan Baru
Baca dalam 60 detik
- Penjualan e-bike China mencapai 68 juta unit pada 2025, menguasai 57% pangsa pasar global, namun pasar domestik mulai jenuh.
- Ekspor e-bike China tumbuh 31,5% pada paruh pertama 2026, didorong permintaan Asia dan regulasi yang berbeda di tiap negara.
- Produsen China kini berlomba menyesuaikan produk dengan standar lokal, membuka peluang sekaligus tantangan bagi pemain Indonesia.

Ekspor sepeda listrik (e-bike) asal China melonjak 31,5% pada paruh pertama 2026 dibanding periode sama tahun sebelumnya, menurut data bea cukai China. Angka ini lebih dari dua kali lipat pertumbuhan ekspor nasional China, menandai pergeseran strategi produsen yang mulai berpaling dari pasar domestik yang jenuh ke kancah internasional, khususnya Asia.
Lonjakan ini terjadi di tengah pasar domestik yang telah matang. Riset GEP Research mencatat penjualan e-bike di China mencapai 68 juta unit pada 2025, atau hampir 57% dari total penjualan global. Namun, pertumbuhan kini lebih banyak ditopang pembelian pengganti, sementara konsumsi domestik melambat. Produsen pun mencari pasar baru, dan Asia menjadi target utama karena masih didominasi sepeda motor berbahan bakar bensin.
Berbeda dengan mobil listrik yang memiliki kerangka standar internasional, e-bike China harus berhadapan dengan regulasi yang terfragmentasi di berbagai negara. Di Singapura, e-bike dengan throttle dilarang, sementara Jepang, Prancis, dan Jerman memiliki aturan berbeda mengenai jenis e-bike yang boleh digunakan di jalan umum. Hong Kong bahkan belum mengizinkan sepeda listrik sama sekali. Kondisi ini memaksa produsen untuk merancang produk khusus untuk tiap pasar.
Oscar Zheng, manajer umum pusat perdagangan internasional di Zhejiang LVJU Vehicle Industry, menjelaskan bahwa penyesuaian tidak hanya soal regulasi, tetapi juga kondisi geografis. "Di Uni Eropa, ada persyaratan ketat soal kecepatan, motor, dan sertifikasi. Di Brasil, aturan berbeda untuk jarak sumbu roda, setang, dan sistem kontrol elektronik. Kami juga menyesuaikan dengan medan berbukit dan iklim kering," ujarnya dalam sebuah pameran industri di Yiwu, awal Agustus lalu.
Keunggulan China tidak hanya pada skala produksi, tetapi juga rantai pasok yang terintegrasi. Zheng menambahkan, "Keunggulan rantai pasok China bukan hanya skala industri 50-60 juta unit per tahun. Sistem layanan, dukungan suku cadang, dan kontrol kualitas juga sudah sangat baik." Hal ini menjadi modal penting untuk bersaing di pasar global.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai pasar sepeda motor terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi incaran eksportir e-bike China. Namun, regulasi lokal yang belum berpihak pada e-bike, seperti aturan teknis dan insentif, bisa menjadi penghambat. Di sisi lain, produsen dalam negeri berpeluang belajar dari pengalaman China dalam membangun ekosistem e-bike, termasuk standar keamanan baterai yang kini diperketat.
Dorongan global untuk mengurangi polusi dan emisi karbon, ditambah kekhawatiran harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah, semakin memperkuat permintaan e-bike. Asia, dengan populasi padat dan kemacetan kronis, menjadi pasar paling potensial. Pertanyaannya, akankah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat adopsi e-bike, atau justru ketinggalan karena lambat menyesuaikan regulasi?



