Politeknik Singapura Percepat Kurikulum Kendaraan Otonom: Magang Lebih Panjang hingga Simulasi AI
Baca dalam 60 detik
- Politeknik di Singapura, seperti Ngee Ann dan Republic, memperluas kurikulum untuk kendaraan otonom dengan magang hingga satu tahun dan pelatihan ADAS.
- Investasi S$800 juta dari pemerintah membuka peluang kolaborasi industri, termasuk dengan LTA, untuk menguji teknologi di lingkungan kampus.
- Penggunaan digital twins dan simulasi AI menjadi fokus agar mahasiswa dapat menguji skenario berisiko tanpa membahayakan keselamatan.

Politeknik-politeknik di Singapura tengah mempercepat transformasi kurikulum teknik mereka untuk menjawab kebutuhan industri kendaraan otonom yang kian kompleks. Langkah ini bukan sekadar menambah materi kuliah, melainkan merombak model pembelajaran dengan magang lebih panjang, pelatihan sistem bantuan pengemudi, hingga pemanfaatan simulasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Di tengah derasnya investasi riset transportasi senilai S$800 juta (sekitar US$626 juta) dari pemerintah, institusi pendidikan vokasi ini berlomba menyiapkan lulusan yang mampu mengintegrasikan perangkat lunak, perangkat keras, dan AI. Ngee Ann Polytechnic (NP) dan Republic Polytechnic (RP) menjadi dua contoh yang paling agresif dalam adaptasi ini, dengan pendekatan berbeda namun tujuan serupa: mencetak tenaga kerja siap pakai untuk era mobilitas tanpa pengemudi.
NP, misalnya, telah menempatkan mahasiswa tahun ketiganya, Shawn Lee, dalam magang 22 minggu di MooVita, operator shuttle otonom. Tugasnya mencakup pemetaan rute sebelum shuttle dioperasikan serta menguji respons kendaraan terhadap berbagai kondisi jalan. "Proyek ini memberi saya pengalaman praktis yang bisa saya gunakan untuk studi lanjut dan bahkan setelah lulus. Saya yakin industri ini akan terus tumbuh," ujarnya. Sekolah bahkan berencana memperpanjang durasi magang hingga satu tahun untuk sejumlah program studi.
Selain itu, NP tengah menjajaki kerja sama dengan Centre for Autonomous Mobility di bawah Land Transport Authority (LTA). Kerja sama ini diharapkan membuka akses mahasiswa ke learning journey, sesi dengan pakar industri, serta proyek kolaboratif. Tan Guangfan, pejabat sementara direktur School of Engineering NP, menekankan bahwa sistem otonom membutuhkan integrasi berbagai teknologi. "Sistem yang sangat kompleks seperti transportasi otonom dan infrastruktur pintar menuntut integrasi perangkat lunak, perangkat keras, data, sensor, dan komunikasi," jelasnya. Ia menambahkan, perusahaan kini mencari lulusan yang mampu "menghubungkan berbagai teknologi" secara lintas disiplin.
Di sisi lain, RP mengambil pendekatan bertahap. Mahasiswa tahun pertama diwajibkan mengambil modul tentang sistem tanpa awak, yang mencakup drone dan kendaraan otonom. Mereka belajar coding dan kendali pergerakan kendaraan menggunakan robot kecil, lalu mengaplikasikannya pada kendaraan sungguhan dengan mempertimbangkan faktor cuaca seperti hujan, panas, dan cahaya terang. Dr. Quek Yang Thee, asisten direktur untuk kapabilitas dan industri di RP, menjelaskan bahwa mulai Oktober mendatang, sekolah akan melatih hingga 80 mahasiswa teknik per tahun dalam Advanced Driver Assistance Systems (ADAS). Langkah ini merupakan respons atas masukan mitra industri yang membutuhkan keahlian tersebut. ADAS dipandang sebagai jembatan antara kendaraan konvensional dan kendaraan sepenuhnya otonom, dengan fitur seperti cruise control adaptif dan peringatan perubahan jalur.
Kedua politeknik juga mengarahkan perhatian pada dana S$800 juta tersebut untuk memperkuat rencana mereka. NP berencana memanfaatkan dana itu untuk proyek yang selaras dengan kapasitas yang ada dan prioritas mobilitas masa depan Singapura. Kampus NP sendiri sudah menjadi lokasi uji coba shuttle otonom MooVita, dan sekolah ingin mengundang lebih banyak mitra industri untuk mengembangkan serta menguji solusi mereka di lingkungan nyata. Sementara itu, RP tertarik menggunakan digital twinsโrepresentasi virtual dari objek atau sistem nyataโuntuk mensimulasikan berbagai skenario. Mahasiswa dapat menguji bagaimana kendaraan otonom merespons situasi yang membingungkan, misalnya saat arahan polisi lalu lintas bertentangan dengan lampu merah. "Mereka bisa menjalankan kendaraan di lingkungan yang aman. Mereka bisa menabrakkan kendaraan, melakukan hal-hal aneh, tetapi tidak akan terluka," kata Dr. Quek.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Dengan industri otomotif yang tengah bertransisi menuju elektrifikasi dan konektivitas, kebutuhan akan tenaga kerja yang memahami ADAS dan kendaraan otonom akan semakin mendesak. Politeknik di Tanah Air dapat mengadopsi pendekatan serupa, terutama dalam hal kolaborasi dengan industri dan penggunaan simulasi untuk menekan biaya pelatihan. Pertanyaannya, apakah institusi pendidikan vokasi di Indonesia siap berinvestasi pada peralatan dan kurikulum yang relevan sebelum industri benar-benar bergerak? Atau justru menunggu hingga kebutuhan itu menjadi krisis?



