Analog Devices Optimistis Permintaan Chip AI Dongkrak Pendapatan Kuartal IV
Baca dalam 60 detik
- Produsen semikonduktor asal AS ini memproyeksikan pendapatan kuartal IV sebesar US$4,3 miliar, melampaui ekspektasi analis.
- Laba per saham kuartal III mencapai US$3,45, didorong permintaan chip manajemen daya untuk pusat data dan otomasi industri.
- Lonjakan investasi AI global membuka peluang besar bagi pemasok komponen, termasuk pasar Asia Tenggara yang tengah membangun infrastruktur digital.

Analog Devices (ADI), perusahaan semikonduktor asal Wilmington, Massachusetts, memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal IV melampaui perkiraan analis Wall Street, seiring derasnya investasi kecerdasan buatan (AI) yang mendongkrak permintaan chip manajemen daya untuk pusat data dan aplikasi industri.
Pada Rabu (19/8) waktu setempat, ADI mengumumkan pendapatan kuartal III mencapai US$4,02 miliar, naik 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan mengungguli estimasi analis sebesar US$3,92 miliar. Laba per saham (EPS) disesuaikan tercatat US$3,45, lebih tinggi dari perkiraan US$3,33. Angka-angka ini menunjukkan bahwa permintaan komponen yang mengatur aliran listrik dan memindahkan data dalam jumlah besar terus menguat, sejalan dengan maraknya pembangunan infrastruktur AI di berbagai belahan dunia.
CEO Vincent Roche dalam pernyataannya menggarisbawahi bahwa kinerja positif tersebut ditopang oleh permintaan yang luas di berbagai segmen. "Investasi kami dalam inovasi, hubungan dengan pelanggan, dan kapabilitas manufaktur menempatkan kami pada posisi yang tepat untuk memanfaatkan peluang di era AI," ujarnya. Komponen ADI banyak digunakan di pusat data, peralatan otomasi pabrik, dan kendaraan modern, menjadikannya salah satu pemain kunci dalam rantai pasok teknologi global.
Untuk kuartal IV, ADI memperkirakan pendapatan mencapai US$4,3 miliar dengan toleransi plus minus US$100 juta, sementara analis yang disurvei LSEG memperkirakan US$4,07 miliar. Adapun EPS disesuaikan diproyeksikan US$3,86, lebih tinggi dari estimasi US$3,54. Optimisme ini mencerminkan keyakinan manajemen bahwa momentum pertumbuhan akan berlanjut, didorong oleh belanja modal perusahaan teknologi besar yang terus menggenjot kapasitas komputasi AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi ganda. Pertama, sebagai bagian dari rantai pasok global, lonjakan permintaan chip dapat membuka peluang ekspor bagi produk elektronik dalam negeri yang menggunakan komponen ADI. Kedua, pemerintah Indonesia yang tengah mendorong transformasi digital dan pembangunan pusat data nasional (seperti di Batam dan Cikarang) akan membutuhkan pasokan chip yang stabil. Meski ADI tidak memiliki pabrik di Indonesia, perusahaan ini dapat menjadi mitra strategis bagi pengembang infrastruktur digital lokal.
Analis menilai bahwa pertumbuhan ADI mencerminkan tren yang lebih luas di industri semikonduktor, di mana permintaan tidak hanya berasal dari hyperscaler global seperti Google dan Microsoft, tetapi juga dari perusahaan telekomunikasi dan manufaktur yang mulai mengadopsi AI. "Kami melihat permintaan yang kuat dari berbagai sektor, bukan hanya dari pemain besar," kata Roche, mengindikasikan bahwa pasar menengah juga turut berkontribusi.
Namun, ada catatan penting. Meskipun proyeksi kuartal IV menggembirakan, saham ADI hanya flat dalam perdagangan pra-pasar, menunjukkan bahwa investor mungkin sudah mengantisipasi kabar baik ini. Selain itu, ketegangan geopolitik antara AS dan China masih menjadi risiko, mengingat China adalah pasar utama semikonduktor. Jika pembatasan ekspor diperketat, ADI bisa kehilangan pangsa pasar yang signifikan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pertumbuhan ini berkelanjutan atau hanya gelembung AI. Dengan belanja modal perusahaan teknologi yang diperkirakan tetap tinggi hingga 2025, ADI tampaknya berada di jalur yang tepat. Namun, diversifikasi pasar, termasuk ke Asia Tenggara, akan menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan. Bagi Indonesia, peluang untuk menarik investasi di sektor hilir semikonduktor—seperti perakitan dan pengujian—semakin terbuka, asalkan regulasi dan insentif yang mendukung segera dihadirkan.



