Ledakan Data Center AS Mengalir ke Pabrik-Pabrik, dari Generator hingga Kabel
Baca dalam 60 detik
- Permintaan infrastruktur AI memicu lonjakan pesanan di berbagai sektor manufaktur AS, dari generator hingga komponen bangunan.
- Investasi besar seperti milik Generac dan Siemens menciptakan lapangan kerja baru, namun kekhawatiran gelembung masih membayangi ekspansi.
- Proyeksi pasar peralatan listrik untuk data center AS mencapai US$66 miliar pada 2030, menggandakan nilai saat ini.

Ledakan pembangunan data center di Amerika Serikat, yang dipicu oleh kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI), kini merambat ke lini produksi pabrik-pabrik di berbagai sektor. Dari pembuat generator hingga produsen kabel dan semen, gelombang permintaan ini mengubah peta industri manufaktur Negeri Paman Sam.
Generac, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pembuat generator rumahan, menjadi salah satu contoh nyata. Mereka mengucurkan dana US$250 juta hingga akhir tahun depan untuk memodifikasi sejumlah pabrik agar mampu memproduksi generator berkapasitas besar khusus data center. Hasilnya, tunggakan pesanan (backlog) untuk mesin-mesin tersebut sudah menembus US$1,6 miliar. Perusahaan yang bermarkas di Waukesha, Wisconsin ini juga berencana menambah sekitar 1.000 pekerja, setara 10 persen dari total karyawannya saat ini.
Fenomena serupa terjadi di berbagai lini. Produsen sistem pendingin, trafo listrik, hingga alat berat konstruksi ikut kebanjiran pesanan. Efeknya berantai hingga ke pemasok bahan baku seperti kabel, pipa, semen, dan panel dinding logam prefabrikasi. Lucian Boldea, CEO Timken yang berbasis di Ohio, produsen bantalan baja presisi tinggi, mengakui bahwa data center menjadi sumber pertumbuhan baru di samping pelanggan tradisionalnya seperti industri pertahanan dan dirgantara.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan sektor manufaktur menambah 5.000 lapangan kerja pada Juli, sehingga total tahun ini mencapai 31.000. Angka ini kontras dengan tahun lalu yang justru kehilangan 113.000 pekerjaan. Indeks aktivitas manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) juga mencatat level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada Juli. Namun, survei yang sama mengungkapkan sentimen pelaku usaha masih cenderung muram, mencerminkan kesenjangan antara sektor yang sedang booming dan bagian manufaktur lainnya.
Kesenjangan ini bahkan terlihat di dalam satu perusahaan. Generac, misalnya, masih menghadapi permintaan yang lesu untuk generator rumah tangga karena pasar properti sedang tertekan. Harga pangan dan bensin yang tinggi membuat konsumen menunda pembelian barang-barang mahal. CEO Generac, Aaron Jagdfeld, melihat adanya lingkaran positif: semakin banyak orang menggunakan AI, semakin besar kebutuhan akan data center, dan itu akan terus mendorong permintaan produknya.
Pemerintahan Trump kerap mengklaim kebijakannya memicu ledakan pabrik baru di AS. Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menyebut strategi tersebut membuahkan hasil, mulai dari investasi manufaktur hingga pertumbuhan output di sektor farmasi, baja, aluminium, dan semikonduktor. Namun, kebijakan tarif yang berubah-ubah juga dinilai menghambat ekspansi pabrik yang bergantung pada mesin impor. Pertanyaan besarnya, mampukah para produsen mengimbangi laju permintaan? Wood Mackenzie, konsultan global, memproyeksikan pasar peralatan listrik untuk data center AS akan melonjak dari US$33 miliar pada 2025 menjadi US$66 miliar pada 2030. Ben Boucher, analis senior di Wood Mackenzie, menegaskan bahwa data center menghadirkan beban yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi industri peralatan listrik. Beberapa perusahaan bahkan terpaksa menaikkan harga hingga 20 persen untuk pesanan lama demi menjaga jadwal pengiriman.
Siemens, raksasa teknik asal Jerman, termasuk yang agresif berekspansi. Mereka mengumumkan investasi lebih dari US$200 juta untuk dua pabrik baru di Georgia dan Texas. Untuk mengantisipasi risiko penurunan bisnis data center, Siemens menerapkan kontrak jangka panjang dengan klausul penalti besar jika target tidak terpenuhi, seperti diungkapkan Barry Powell, presiden Siemens Electrical Products untuk Amerika Utara. Sementara itu, perusahaan kecil seperti Southeastern Hose di Bremen, Georgia, yang awalnya membuat selang logam bergelombang untuk industri baja dan petrokimia, kini merasakan ledakan permintaan dari proyek data center. Pendapatan mereka naik tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir, dan karyawan bertambah dari 90 menjadi 150 orang.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga. Meskipun tidak secara langsung terlibat dalam rantai pasok data center AS, lonjakan investasi infrastruktur digital di negara maju menunjukkan bahwa permintaan terhadap komponen manufaktur bisa berubah cepat. Indonesia yang sedang giat membangun ekosistem digital dan industri pengolahan perlu mengantisipasi tren serupa. Apakah industri dalam negeri siap menangkap peluang dari gelombang investasi AI global, atau justru hanya menjadi penonton? Jawabannya bergantung pada kesiapan industri pendukung dan kebijakan yang mendorong hilirisasi.



