Serena Williams: Comeback Penuh Bakat, Tapi Mampukah Bersaing di Grand Slam?
Baca dalam 60 detik
- Serena Williams menunjukkan kualitas pukulan yang masih elit meski kalah di babak pertama Wimbledon 2024, memicu spekulasi tentang masa depannya di turnamen besar.
- Kecepatan servisnya hampir tidak berkurang sejak 2016, namun footwork dan kebugaran masih perlu ditingkatkan untuk bersaing di level tertinggi.
- Mantan petenis Naomi Broady menilai target realistis Serena adalah Olimpiade 2028 di Los Angeles, jika kondisi fisik memungkinkan.

Kekalahan Serena Williams di babak pertama Wimbledon 2024 mungkin mengecewakan, tetapi penampilannya menyisakan secercah harapan. Mantan petenis profesional Naomi Broady menilai bahwa bakat alamiah Williams masih utuh, seperti melihat legenda sepak bola Ronaldinho yang kehilangan kecepatan namun tetap memukau dengan skill-nya.
Williams, yang terakhir kali bermain tunggal pada 2022, harus mengakui keunggulan petenis Australia Maya Joint. Cedera lutut yang dideritanya juga memaksanya mundur dari nomor ganda bersama Venus Williams. Meski demikian, Broady, yang kini menjadi analis, menekankan bahwa kualitas pukulan Williams masih di atas rata-rata. "Timing dan pukulannya masih luar biasa. Bakat elit tidak pernah hilang begitu saja," ujarnya kepada BBC Sport.
Namun, ada beberapa kelemahan yang terlihat jelas. Footwork dan kebugaran Williams masih perlu peningkatan signifikan. Ia lebih banyak bermain di tengah lapangan, menghindari sudut-sudut lebarโsebuah strategi yang mungkin lahir dari kurangnya kepercayaan diri dalam pergerakan. Ini kontras dengan penampilannya di Wimbledon 2022 saat kalah dari Harmony Tan.
Broady memperkirakan bahwa musim lapangan keras Amerika Utara akan menjadi ujian sesungguhnya. Turnamen di Washington, Cincinnati, dan US Open memiliki kondisi panas dan lembap yang menuntut kebugaran prima. "Jika ia ingin tampil di Amerika, kebugaran akan kembali secara alami seiring jam latihan," kata Broady. Namun, cedera lutut yang belum jelas diagnosisnya bisa menjadi penghalang.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kisah Williams mengingatkan pada perjuangan atlet-atlet legendaris yang kembali dari masa pensiun. Meski tidak ada petenis Indonesia yang setara, semangat kompetitif Williams bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Tanah Air yang bermimpi menembus turnamen Grand Slam. PSSI dan federasi tenis Indonesia bisa belajar dari manajemen karier Williams yang cermat dalam memilih turnamen.
Yang menarik, Broady menyebut target jangka panjang Williams mungkin bukan US Open tahun ini, melainkan Olimpiade 2028 di Los Angeles. "Itu akan menjadi akhir dongeng bagi kariernya, jika tubuhnya mengizinkan," ujarnya. Pertanyaannya, mampukah Williams bertahan hingga empat tahun lagi? Atau akankah ia memutuskan untuk gantung raket setelah musim panas ini?
Terlepas dari hasil akhir, satu hal pasti: kehadiran Williams di lapangan tetap menjadi tontonan yang tak ternilai. Seperti yang dikatakan Broady, "Tidak ada yang melihat Serena dan berpikir 'dia pasti kalah'."



