Maggie Gyllenhaal Tolak Label 'Perempuan Kuat', Pilih Karakter Perempuan yang Utuh
Baca dalam 60 detik
- Maggie Gyllenhaal mengaku tidak tertarik membuat film tentang 'perempuan kuat' karena dianggap terlalu sempit.
- Sutradara 'The Bride' ini ingin menampilkan perempuan dengan segala kelemahan, kekuatan, dan kompleksitas emosi.
- Keterbatasan jumlah sineas perempuan membuat eksplorasi karakter perempuan yang jujur masih jarang ditemukan.

Sutradara dan aktris Maggie Gyllenhaal secara terbuka menyatakan keengganannya terhadap label 'perempuan kuat' yang kerap disematkan pada karakter wanita di film. Menurutnya, pendekatan itu justru mereduksi kompleksitas manusiawi perempuan.
Dalam wawancara di Festival Film Karlovy Vary, Gyllenhaal menegaskan bahwa ia lebih tertarik pada penggambaran perempuan yang mencerminkan pengalaman nyata—yang di dalamnya terdapat kekuatan sekaligus kelemahan, kerentanan, kenikmatan, hingga ketakutan. "Saya tidak terlalu tertarik pada 'karakter perempuan kuat'. Saya tertarik pada penggambaran perempuan yang bisa saya kenali sebagai sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman saya sendiri," ujarnya seperti dikutip Variety.
Pandangan ini muncul di tengah industri perfilman yang masih didominasi perspektif laki-laki. Gyllenhaal menilai bahwa selama sebagian besar sejarah perfilman, film dibuat oleh laki-laki. Meskipun ada beberapa karakter perempuan menarik yang diciptakan sineas pria, ia meragukan kemampuan mereka untuk memahami seluruh spektrum pengalaman feminin, terutama sisi-sisi yang sering disembunyikan atau memalukan.
Bagi Gyllenhaal, tujuannya bukanlah mendobrak tabu, melainkan menciptakan ruang bagi pengalaman pribadi dan para kolaboratornya untuk diekspresikan. "Bukan karena saya tertarik mendobrak tabu, saya pikir hal itu terlihat seperti itu karena sangat sedikit perempuan yang membuat film, sehingga hal-hal ini terlihat terlarang. Padahal hanya belum pernah dijelajahi," jelasnya. Ia bahkan mengaku terkejut bahwa eksplorasinya menuai kemarahan dari sebagian penonton.
Di Indonesia, perdebatan serupa juga mengemuka di kalangan sineas dan pegiat film. Banyak kritikus menilai bahwa karakter perempuan di film Indonesia masih sering terjebak dalam stereotip—antara 'perempuan kuat' yang mandiri atau 'perempuan lemah' yang pasrah. Padahal, seperti diungkapkan Gyllenhaal, perempuan memiliki spektrum emosi yang jauh lebih kaya. Film-film seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak atau Yuni menjadi contoh awal yang mulai merangkul kompleksitas tersebut.
Pengalaman pribadi Gyllenhaal sebagai aktris juga mendorongnya untuk lebih terbuka terhadap masukan para pemain. Ia mengaku kerap merasa sutradara tidak tertarik pada interpretasi atau 'seni'-nya jika berbeda dari bayangan mereka. "Saya pandai melindungi sedikit ruang di sekitar saya. Tapi kemudian saya lelah melakukan tarian itu, dan saya pikir saya butuh lebih banyak ruang. Saya tidak hanya ingin kebebasan berekspresi, saya juga ingin menawarkan kebebasan itu kepada seniman lain," katanya.
Ke depan, pendekatan Gyllenhaal bisa menjadi angin segar bagi industri perfilman global yang mulai bergerak menuju representasi yang lebih autentik. Pertanyaannya, akankah para sineas—termasuk di Indonesia—berani meninggalkan formula aman 'perempuan kuat' dan mulai mengeksplorasi kerumitan karakter perempuan yang sesungguhnya?



