Taylor Sheridan Bantah Rumor Spin-off Yellowstone 6666: 'Saya Tak Akan Pernah Membuatnya'
Baca dalam 60 detik
- Kreator Yellowstone, Taylor Sheridan, memastikan serial spin-off 6666 yang sempat diumumkan Paramount batal total.
- Keputusan ini diambil karena Sheridan merasa bertanggung jawab melindungi ranch asli di Texas dari fiksionalisasi.
- Sheridan juga mengungkap kisah di balik hengkangnya dari Sons of Anarchy akibat gaji yang tak layak.

Taylor Sheridan, kreator di balik serial sukses Yellowstone, akhirnya angkat bicara soal masa depan spin-off yang sempat diumumkan Paramount. Dalam wawancara terbaru, ia menegaskan bahwa serial 6666 yang berbasis di Four Sixes Ranch, Texas, tidak akan pernah diproduksi. Pernyataan ini sekaligus memupus harapan para penggemar yang telah menantikan kelanjutan kisah dari alam semesta Yellowstone.
Kabar tentang spin-off 6666 pertama kali mencuat ketika karakter Jimmy Hurdstrom, yang diperankan Jefferson White, dikirim ke ranch tersebut di musim keempat. Paramount secara resmi mengumumkan proyek ini pada presentasi Upfront 2022, memicu spekulasi luas di kalangan penggemar. Namun, Sheridan, yang juga membeli ranch tersebut bersama sejumlah investor pada 2020, memilih untuk mengurungkan niatnya. Alasannya, ia merasa berat hati jika harus mengangkat kisah fiksi dari tempat yang dihuni oleh orang-orang nyata yang bekerja keras di sana.
Dalam podcast Rodeo Times, Sheridan mengungkapkan bahwa ia sudah menyusun semua adegan Jimmy di 6666 menjadi satu rangkaian yang bisa berdiri sendiri sebagai film pendek. "Anda bisa melihatnya datang sebagai orang yang tidak cocok, lalu pergi sebagai pria dan koboi yang dihormati," katanya. Meski begitu, ia menegaskan, "Tidak akan pernah ada satu pun. Saya tidak akan pernah memfiksikan ranch itu." Keputusan ini diambil karena ia merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap para koboi dan keluarga yang bekerja di sana.
Keputusan Sheridan ini menarik untuk dicermati, terutama di tengah tren industri hiburan yang gencar mengeksploitasi waralaba sukses. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi, di mana banyak rumah produksi berlomba-lomba membuat spin-off atau remake dari film dan serial populer. Namun, kasus Sheridan menunjukkan bahwa ada batasan etis yang kadang lebih penting daripada keuntungan komersial. Bagi penonton Indonesia yang menggemari genre Western, berita ini mungkin mengecewakan, tetapi juga memunculkan pertanyaan: sejauh mana sebuah karya fiksi boleh mengambil inspirasi dari tempat dan orang nyata?
Di luar keputusan soal spin-off, Sheridan juga berbagi pengalaman pahitnya di industri hiburan. Sebelum sukses sebagai penulis dan produser, ia sempat berakting di serial Sons of Anarchy sebagai David Hale. Namun, ia memilih hengkang setelah musim kedua karena masalah gaji. Dalam wawancara di The Howard Stern Show, ia menceritakan bahwa saat itu ia hanya menerima gaji minimum, jauh di bawah rekan-rekannya yang mendapat 20.000 dolar per episode. Permintaannya untuk dinaikkan ditolak mentah-mentah, dengan alasan "ada 50 orang seperti dia yang bisa menggantikannya".
Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menghargai kreator dan pekerja seni. Di Indonesia, isu kesejahteraan pekerja kreatif juga kerap menjadi sorotan, terutama di tengah maraknya platform digital yang menuntut produksi konten tanpa henti. Kasus Sheridan menggarisbawahi bahwa nilai seorang kreator tidak bisa diukur dari sekadar angka, tetapi juga dari dedikasi dan karya yang dihasilkan. Pertanyaannya, akankah industri hiburan, baik di Amerika maupun Indonesia, mulai berbenah untuk memberikan kompensasi yang adil bagi para talenta di balik layar?



