Tiga Polisi Tewas dalam Penggerebekan Narkoba di Katingan: Aiptu Sumaryanto Ditemukan Meninggal
Baca dalam 60 detik
- Aiptu Sumaryanto, anggota Satresnarkoba Polres Katingan, ditemukan tewas di Sungai Rantau Asem setelah sempat hilang saat penggerebekan bandar narkoba.
- Korban ketiga dari pihak kepolisian ini menambah daftar aparat yang gugur dalam operasi pemberantasan sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kalteng.
- Perlawanan sengit dari tersangka dan warga menggunakan senjata tajam menjadi penyebab tewasnya para polisi, menyoroti tingginya risiko operasi narkoba di daerah terpencil.

Jenazah Aiptu Sumaryanto, anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang dilaporkan hilang saat menggerebek bandar narkoba di Kalimantan Tengah, akhirnya ditemukan di aliran sungai pada Minggu (5/7) pagi. Polisi kedua yang sempat dinyatakan hilang itu menjadi korban ketiga dari aparat yang tewas dalam operasi yang berlangsung di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengonfirmasi penemuan jenazah Sumaryanto sekitar pukul 09.15 WIB di Sungai Rantau Asem, sekitar empat kilometer dari lokasi penggerebekan. Sebelumnya, Bripda Nopandri Ramadhana ditemukan tewas pada Sabtu (4/7) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, sementara Aipda Yudhie Perdana Putra gugur di tempat kejadian.
Operasi yang digelar pada Rabu (1/7) malam itu bermula dari laporan masyarakat tentang peredaran sabu di desa terpencil tersebut. Sebanyak 12 personel diterjunkan, dibagi dalam dua tim: satu untuk menangkap target berinisial BIO—seorang residivis narkotika—dan satu tim pendukung. Meski target berhasil diamankan, situasi berubah ketika sejumlah orang di dalam rumah dan warga sekitar melawan menggunakan parang.
Pencarian Sumaryanto melibatkan personel gabungan dari Polda Kalteng, Polairud, Kodim 1019/Ktg, Basarnas, dan warga setempat. Tiga perahu karet dan delapan kapal ces kecil dikerahkan untuk menyusuri sungai, hutan di tepian, hingga ke pasar Desa Samba. Informasi awal dari Babinsa Rantau Asem, Kopda Imam, mengarahkan tim ke lokasi penemuan jenazah. Saat ini, jenazah Sumaryanto telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi aparat dalam pemberantasan narkoba di daerah pedalaman Kalimantan. Kondisi geografis yang sulit, minimnya infrastruktur, dan potensi perlawanan bersenjata dari jaringan narkoba menjadi tantangan serius. Kasus ini juga memicu pertanyaan tentang kesiapan prosedur operasi standar dan perlindungan bagi personel di lapangan.
Ke depan, Polri diharapkan mengevaluasi strategi penggerebekan di wilayah rawan, termasuk peningkatan perlengkapan dan koordinasi dengan instansi terkait. Pertanyaan yang mengemuka: apakah operasi serupa akan tetap dilakukan dengan risiko yang sama, atau ada perubahan taktik untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa?



