Penari Balet Jepang Ryoma Hudzeleu Raih Emas di Kompetisi Bergengsi Moskow
Baca dalam 60 detik
- Ryoma Hudzeleu menjadi penari Jepang pertama sejak 2017 yang merebut medali emas di International Ballet Competition Moskow.
- Penari berusia 20 tahun itu mengalahkan runner-up asal Rusia, menandai dominasi baru di kancah balet internasional.
- Prestasi ini membuka peluang bagi penari Asia, termasuk Indonesia, untuk bersaing di kompetisi balet kelas dunia.

Ryoma Hudzeleu, penari balet asal Jepang, berhasil menyabet medali emas di ajang International Ballet Competition ke-15 yang digelar di Moskow, Rusia. Kemenangan ini menjadikannya penari Jepang pertama sejak 2017 yang meraih penghargaan tertinggi di salah satu dari tiga kompetisi balet paling bergengsi di dunia.
Pemuda berusia 20 tahun asal Tokyo ini memiliki darah Belarusia dari sang ayah. Ia menempuh pendidikan balet di Belarus dan Jerman sebelum akhirnya bergabung dengan Mariinsky Ballet di Rusia pada 2025. Latar belakang multinasionalnya menjadi modal berharga dalam menguasai teknik balet klasik yang ketat.
Di babak final, Hudzeleu berhasil mengungguli penari Rusia, Akib Anvar, yang harus puas di posisi runner-up. Kompetisi yang biasanya digelar setiap empat tahun sekali ini menjadi ajang pembuktian bagi penari muda Asia di tengah dominasi tradisi balet Eropa Timur.
Prestasi Hudzeleu tidak hanya membanggakan Jepang, tetapi juga menjadi inspirasi bagi penari balet di Asia, termasuk Indonesia. Meskipun tradisi balet di Indonesia belum semasif di negara tetangga seperti Filipina atau Singapura, kemenangan ini menunjukkan bahwa penari dari Asia mampu bersaing di level tertinggi. Beberapa sekolah balet di Jakarta dan Surabaya mulai melirik peluang mengirimkan siswa ke kompetisi internasional serupa.
Menurut pengamat seni pertunjukan, kemenangan Hudzeleu juga menandai pergeseran peta kekuatan balet dunia. Jika sebelumnya Rusia dan Eropa Timur mendominasi, kini penari dari Jepang, Korea Selatan, dan China mulai menembus jajaran pemenang. Hal ini didorong oleh investasi besar dalam pendidikan seni dan pelatihan intensif di negara-negara Asia.
Sementara itu, penari Jepang lainnya, Denis Watanabe, berhasil meraih medali perak di kategori junior solo division putra, hanya kalah dari Pak Kunbyulbit asal Korea Selatan. Di kategori putri, Sakura Nagai yang masih berusia 16 tahun membawa pulang medali perunggu. Capaian ini menunjukkan regenerasi penari balet Jepang yang solid.
Ke depan, International Ballet Competition diprediksi akan semakin kompetitif dengan munculnya bakat-bakat baru dari Asia. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengikuti jejak Jepang dan Korea Selatan dalam mencetak penari balet kelas dunia?



