Ricky Gervais Buka Suara soal Assisted Dying: Saya Pro-Pilihan, tapi Butuh Kondisi Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Komika 65 tahun itu menyatakan dukungannya terhadap RUU Assisted Dying di Inggris, namun mengaku hanya akan mempertimbangkan klinik Dignitas jika rasa sakitnya tak tertahankan.
- Gervais mengkritik teori konspirasi yang menghambat pengesahan RUU tersebut, seraya menegaskan hak individu untuk menentukan akhir hidupnya.
- Di tengah kontroversi, ia tetap fokus pada serial animasi Alley Cats dan mengungkap rencana menikah demi alasan perpajakan.

Ricky Gervais, komedian asal Inggris yang dikenal lewat The Office dan After Life, kembali memicu perdebatan publik dengan pernyataan kontroversialnya tentang hak untuk mengakhiri hidup. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Saga, pria berusia 65 tahun itu mengaku mendukung penuh RUU Assisted Dying yang tengah dibahas di Inggris, namun menegaskan bahwa ia hanya akan mempertimbangkan opsi tersebut dalam kondisi yang sangat ekstrem.
Gervais, yang selama ini vokal menyuarakan dukungannya terhadap RUU tersebut, mengungkapkan bahwa meskipun ia tidak menolak gagasan mengunjungi klinik Dignitas di Swiss, keputusan itu tidak akan diambil dengan enteng. "Butuh banyak hal untuk membawa saya ke sana. Saya ingin menghirup napas terakhir saya. Hanya jika setiap napas terasa menyakitkan," ujarnya, menggambarkan batasan pribadinya yang tegas.
Pernyataan ini muncul di tengah hiruk-pikuk perdebatan di House of Lords yang kembali menunda pengesahan RUU tersebut. Gervais dengan tajam mengkritik apa yang ia sebut sebagai "teori konspirasi konyol" yang membuat para legislator ragu. "Saya pro-pilihan; ini hidup Anda, Anda harus bisa melakukan apa yang Anda inginkan," tegasnya, menyoroti pentingnya otonomi individu dalam keputusan akhir hidup.
Menariknya, pandangan Gervais tentang kematian justru terbilang sederhana. Ia mengaku tidak takut pada kematian itu sendiri, melainkan pada proses menuju kematian. "Saya pikir kematian adalah ketiadaan, jadi saya tidak punya kecemasan tentang surga atau neraka. Tapi saya khawatir bagaimana saya akan mati. Saya tidak ingin mati kesakitan di parit," jelasnya, mengungkapkan sisi filosofis yang jarang terlihat dari sang komedian.
Di luar isu kontroversial tersebut, Gervais juga membahas proyek terbarunya, Alley Cats, serial animasi Netflix yang sarat akan diskusi tentang mortalitas. Meski menuai kritik pedas, ia mengaku optimis serial ini akan diperbarui untuk musim berikutnya. "Ini pertama kalinya saya bisa membayangkan bekerja sampai saya mati. Saya tidak akan pernah kehabisan ide untuk serial ini," katanya dengan penuh semangat.
Dalam kesempatan yang sama, Gervais juga mengungkapkan rencana untuk menikahi pasangan lamanya, Jane Fallon, meski dengan alasan yang tak lazim: pajak warisan. "Itu akan menjadi alasan saya menikah. Kami belum melakukannya. Tapi jika bukan karena pajak... kenapa? Ini gila. Seberapa menikah lagi kita bisa? Kami berbagi semua uang, sudah tinggal bersama selama 40 tahun. Beberapa pernikahan bahkan tidak bertahan setahun," tuturnya, menyindir institusi pernikahan yang menurutnya kerap kehilangan makna.
Bagi publik Indonesia, pernyataan Gervais ini membuka ruang diskusi yang relevan tentang bagaimana kita memandang hak atas hidup dan mati. Di tengah minimnya regulasi tentang euthanasia di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pandangan Gervais bisa menjadi cermin bagi perdebatan etis yang mungkin akan semakin mengemuka seiring bertambahnya usia harapan hidup dan meningkatnya kesadaran akan hak-hak pasien.
Ke depannya, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah RUU Assisted Dying di Inggris akan akhirnya disahkan, dan bagaimana respons publik global, termasuk di Indonesia, terhadap isu yang sarat muatan moral dan agama ini? Gervais, dengan caranya yang khas, telah memastikan bahwa percakapan ini tidak akan segera padam.



