Yungblud Tetap Tampil di Pukkelpop dan CA Vilar de Mouros Meski Patah Kaki: 'Masih Giggin'
Baca dalam 60 detik
- Yungblud mengonfirmasi tetap manggung di Belgia dan Portugal pekan ini setelah mengalami patah kaki akibat kecelakaan motor di Sturgis Rally.
- Keputusan ini muncul hanya sebulan setelah ia membatalkan penampilan di Kanada demi fokus pada kesehatan mentalnya, menunjukkan prioritas yang kontras.
- Langkah ini menyoroti tekanan industri musik yang menuntut performa konsisten, sekaligus membuka diskusi tentang batas antara dedikasi dan kesehatan artis.

Yungblud, musisi asal Inggris berusia 29 tahun, memastikan diri tetap manggung di dua festival Eropa pekan ini—Pukkelpop di Belgia dan CA Vilar de Mouros di Portugal—meski kakinya patah akibat kecelakaan motor. Lewat unggahan Instagram pada Minggu (16/8), ia memperlihatkan dirinya berpegangan pada kruk dengan kaki yang dibalut gips, disertai keterangan singkat: "Kaki hancur. Tetap manggung. Tetap berdiri (kurang lebih)."
Kecelakaan itu terjadi di Sturgis Motorcycle Rally, Dakota Selatan, Amerika Serikat, pekan lalu, tepatnya saat ia tampil pada 9 Agustus. Juru bicara Yungblud mengonfirmasi kepada Billboard bahwa insiden tersebut merupakan kecelakaan sepeda motor ringan. Meski demikian, sang musisi yang dikenal dengan gaya punk-rock itu menegaskan bahwa penampilannya di Belgia dan Portugal akan tetap berlangsung, bahkan ia menyebutnya akan "sangat gila".
Keputusan ini menarik karena hanya sebulan sebelumnya, Yungblud—nama asli Dominic Harrison—membatalkan penampilannya di Cowboys Music Festival, Calgary, Kanada, pada 12 Juli. Saat itu, ia mengaku kewalahan secara emosional dan memilih pulang ke Inggris untuk memulihkan diri. "Saya sedang dalam fase memperbaiki diri dan mengambil waktu di rumah," tulisnya dalam pernyataan resmi kala itu. Ia menekankan bahwa langkah tersebut diambil demi kebaikan jangka panjang, meski harus mengecewakan penggemar di Kanada.
Kontras antara pembatalan demi kesehatan mental dan pilihan tetap tampil dengan cedera fisik ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana artis menyeimbangkan tuntutan karier dengan kondisi pribadi. Yungblud sendiri pernah mengalami momen rentan di atas panggung, seperti saat ia menangis di hadapan penonton dalam Bludfest di Ceko pada 27 Juni. Ia mengaku merasa terputus dari segala hal, kesakitan tanpa sebab yang jelas, dan hanya menemukan rasa aman saat melihat wajah para penggemarnya. "Setiap kali aku melihat kalian, aku tahu aku punya tempat untuk pulang," ujarnya kepada penonton, yang kemudian ia unggah ulang di Instagram dengan caption panjang.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini mungkin terasa dekat dengan fenomena artis yang kerap tampil dalam kondisi kurang prima. Industri musik global, termasuk yang dinikmati di Tanah Air, sering menuntut artis untuk tampil sempurna di atas panggung, sementara tekanan mental dan fisik kerap terabaikan. Kasus Yungblud menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada manusia yang berjuang melawan rasa sakit—baik fisik maupun emosional. Di Indonesia, isu kesehatan mental di kalangan musisi juga mulai mengemuka, dengan beberapa nama besar yang berani bicara terbuka tentang depresi dan kecemasan.
Yungblud sendiri mengaku bahwa ia merasa "tervalidasi" setelah membaca artikel yang memujinya, menunjukkan bahwa apresiasi publik masih menjadi salah satu penyemangat utamanya. Namun, ia juga jujur tentang beban kritik dan kebencian yang diterimanya dari warganet maupun sesama musisi. "Kebencian dan ketidakpercayaan dari orang asing dan musisi lain sangat memberatkan," tulisnya dalam unggahan Instagram setelah insiden Bludfest.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Yungblud mampu menyelesaikan rangkaian turnya, tetapi juga bagaimana industri musik—termasuk di Indonesia—dapat menciptakan ekosistem yang lebih sehat bagi para artis. Apakah dedikasi pada penggemar harus selalu mengorbankan kesehatan pribadi? Atau justru ada ruang bagi artis untuk berkata "cukup" tanpa takut kehilangan karier? Yungblud mungkin sedang menjawabnya dengan caranya sendiri: tetap tampil, tetapi juga tidak ragu menunjukkan kerentanannya.



