Gempuran AI di Industri Film China: 95% Microdrama Baru Buatan Mesin, Pekerja Manusia Mulai Tergusur
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 122.000 microdrama yang dirilis di China pada kuartal I 2026 sepenuhnya dihasilkan AI, melonjak dari hampir nol setahun sebelumnya.
- Efisiensi biaya dan waktu produksi menjadi daya tarik utama, namun gelombang ini memicu pengangguran massal di kalangan kru lapangan dan aktor pendukung.
- Para pakar memprediksi AI akan terintegrasi dalam produksi konvensional, bukan menggantikan total, dengan microdrama AI tetap berada di segmen murah dan cepat.

Lebih dari 95 persen microdrama baru yang dirilis di China pada tiga bulan pertama 2026 diproduksi sepenuhnya oleh kecerdasan buatan (AI), sebuah lonjakan drastis dari kondisi setahun sebelumnya yang hampir nihil. Fenomena ini tidak hanya mengubah peta industri hiburan Negeri Tirai Bambu, tetapi juga memicu gelombang pengangguran di kalangan pekerja kreatif lapangan.
Menurut laporan Asosiasi Layanan Jaringan China pada April lalu, sekitar 128.000 microdrama—serial vertikal berbiaya rendah yang ditonton miliaran kali—muncul di kuartal pertama tahun ini. Dari jumlah tersebut, 122.000 judul di antaranya dibuat tanpa melibatkan kamera atau aktor sungguhan. Angka ini empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Microdrama sendiri telah menjadi primadona pasar. Pada 2024, nilai pasarnya untuk pertama kalinya melampaui pendapatan box office nasional China, dan diperkirakan tembus 120 miliar yuan (sekitar Rp 270 triliun) pada 2026. Efisiensi menjadi kata kunci: dengan tim lima hingga sepuluh orang, satu seri microdrama AI bisa rampung dalam dua pekan hingga sebulan, dengan biaya sekitar 100.000 yuan. Sebagai perbandingan, produksi live-action konvensional membutuhkan biaya 300.000–500.000 yuan dan waktu dua hingga tiga bulan.
Namun, efisiensi ini datang dengan ongkos sosial yang nyata. Sebuah survei oleh Ebrun menemukan bahwa lebih dari 60 persen kru live-action di sektor microdrama telah menghentikan aktivitas setelah Perayaan Tahun Baru Imlek. Media keuangan 21st Century Business Herald melaporkan tarif aktor kelas menengah turun setengahnya, sementara peran di belakang layar—tata cahaya, kostum, fotografi—kehilangan banyak pekerjaan. Di Hengdian, pusat produksi drama China, aktor Bi Zhiqiang mengaku dulu bisa menerima tawaran syuting setiap hari, kini hanya satu atau dua kali sebulan.
Junjun, seorang produser di perusahaan Beijing yang beralih total ke microdrama AI, menggambarkan perubahan di lini produksi. Tim editing yang dulu butuh lima hingga enam orang kini cukup satu orang karena AI telah memotong sebagian proses. Beberapa editor beralih menjadi "generation artist"—istilah yang dipinjam dari gacha game—yang bertugas menghasilkan cuplikan demi cuplikan dan menyaring yang layak pakai. "Peran untuk aktor kontrak kami benar-benar berkurang," ujarnya.
Meski demikian, para pelaku industri sepakat bahwa AI belum mampu menggantikan esensi seni peran. Wu Hankun, aktor dan kreator konten, mengatakan detail performa asli tidak bisa direproduksi. Xie Danming, kepala ilmuwan AI iQiyi, mencontohkan adegan pantai: AI bisa menghasilkan setiap bidikan secara meyakinkan, tetapi ketika digabung, inkonsistensi cuaca, pencahayaan, atau gerakan ombak membuat rangkaian terasa tidak alami. iQiyi sendiri mengakui bahwa menciptakan narasi panjang berkualitas drama profesional masih menjadi tantangan industri.
Bagi Indonesia, gelombang AI di industri film China menjadi sinyal peringatan dan pelajaran. Dengan pasar microdrama yang juga tumbuh di Tanah Air—didorong penetrasi smartphone dan platform video pendek—risiko disrupsi serupa bisa terjadi. Pekerja kreatif level entry seperti editor, kru lapangan, dan aktor figuran perlu segera meningkatkan keterampilan agar tidak tergusur. Regulasi yang mendorong kolaborasi manusia-AI, bukan substitusi penuh, bisa menjadi jalan tengah.
Ke depan, para ahli memperkirakan AI tidak akan sepenuhnya menggantikan pembuatan film konvensional. Sebaliknya, AI akan semakin terintegrasi sebagai alat bantu dalam produksi biasa, sementara konten AI murni akan terkonsentrasi di format murah dan bervolume tinggi. Sun Bin, wakil dekan Sekolah Drama, Film dan Televisi di Communication University of China, menegaskan bahwa inti seni film tetaplah manusia, cerita, emosi, dan nilai. Pertanyaannya, mampukah industri Indonesia menyeimbangkan efisiensi teknologi tanpa mengorbankan jiwa kreatif yang menjadi ruh perfilman?



