Douglas Costa Tinggalkan Chievo, Gabung Al Ittifaq Bersama Balotelli
Baca dalam 60 detik
- Eks bintang Juventus dan Bayern Munich, Douglas Costa, resmi hengkang dari klub Serie D Chievo Verona ke Al Ittifaq di Dubai.
- Kepindahan ini mempertemukan kembali Costa dengan Mario Balotelli, yang sebelumnya menjadi perantara transfernya ke Chievo.
- Langkah ini merupakan bagian dari rencana kepemilikan bersama Pietro Laterza, yang juga membuka peluang bergabungnya Enock Barwuah, adik Balotelli.

Douglas Costa, mantan pemain sayap Juventus dan Bayern Munich, secara resmi meninggalkan klub Serie D Chievo Verona untuk bergabung dengan Al Ittifaq di Dubai. Di sana, ia akan kembali bersatu dengan Mario Balotelli, rekan setim yang juga menjadi sahabat dekatnya.
Keputusan Costa bergabung dengan Chievo pada awal tahun sempat mengejutkan banyak pihak. Klub yang berbasis di Verona itu harus memulai lagi dari kasta keempat setelah dinyatakan bangkrut. Namun, pemain Brasil berusia 34 tahun itu memilih bertahan dan bermain dalam 11 pertandingan, menyumbang satu assist. Kontraknya di Chievo sejatinya baru akan berakhir pada Januari 2026.
Kini, Costa menandatangani kontrak dengan Al Ittifaq, klub yang juga dimiliki oleh pengusaha Italia Pietro Laterza. Laterza diketahui memiliki kedua klub, Chievo dan Al Ittifaq, sehingga memudahkan proses transfer. Rencana awal memang untuk 'menitipkan' Costa di Chievo hingga Juni, saat slot pemain asing di klub Dubai tersebut terbuka.
Peran Balotelli dalam transfer ini tidak bisa diabaikan. Ia menjadi jembatan antara Costa dan direktur Chievo, Andrea Fulco, sehingga kesepakatan awal bisa terwujud. Kini, keduanya akan kembali bermain bersama di Al Ittifaq, setelah sebelumnya sempat satu tim di klub Italia tersebut.
Tak hanya Costa, Al Ittifaq dikabarkan juga akan mendatangkan Enock Barwuah, adik kandung Mario Balotelli. Saat ini, Barwuah bermain untuk Desenzano, klub Serie D lainnya. Jika bergabung, ia akan menjadi rekrutan ketiga yang memiliki hubungan dengan Balotelli di klub tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan pemain-pemain ini menarik untuk diikuti karena menunjukkan bagaimana jejaring kepemilikan klub dapat memengaruhi bursa transfer. Fenomena seperti ini jarang terjadi di Asia, namun mulai marak di Timur Tengah, di mana investor Eropa kerap memiliki lebih dari satu klub. Ke depannya, model bisnis seperti ini bisa menjadi tren baru yang patut dicermati oleh klub-klub Indonesia yang ingin memperluas jangkauan global mereka.
Dengan bergabungnya Costa, Al Ittifaq semakin diperkuat oleh pemain-pemain berpengalaman. Pertanyaan selanjutnya, akankah skuad ini mampu bersaing di kompetisi domestik Uni Emirat Arab? Atau justru akan menjadi batu loncatan bagi pemain-pemain Eropa yang ingin menghabiskan karier di Timur Tengah?



