Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.975, Cadangan Devisa Juni Tembus US$145,6 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup menguat 0,06% ke Rp17.975 per dolar AS pada Selasa (7/7), membalikkan pelemahan hari sebelumnya.
- Cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$145,6 miliar di Juni 2026, didorong penerimaan pajak dan intervensi BI.
- BI dan pemerintah sepakat menaikkan imbal hasil SBN dan SRBI untuk menarik modal asing, dengan BI menanggung beban remunerasi tambahan.

Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (7/7/2026), di tengah rilis data cadangan devisa yang menunjukkan peningkatan dan sinyal koordinasi kebijakan fiskal-moneter yang semakin erat.
Berdasarkan data Refinitif, rupiah ditutup di level Rp17.975 per dolar AS, menguat 0,06% dibandingkan posisi Senin (6/7) yang berada di Rp17.985. Sepanjang hari, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.930 hingga Rp17.990. Penguatan ini terjadi meskipun indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,09% ke level 100,949 pada pukul 15.00 WIB.
Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, naik tipis dari US$144,9 miliar pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar yang dilakukan BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa cadangan tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Dari sisi kebijakan, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (7/7), mengungkapkan sejumlah langkah koordinasi fiskal dan moneter yang telah ditempuh. Salah satunya adalah penyesuaian suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal masuk. Perry menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap kesehatan fiskal negara. "Kami sepakat sama-sama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, juga berpengaruh penting kesehatan fiskal. Kami sepakat menaikkan suku bunga SRBI dan SBN agar terjadi inflow, hasilnya positif," ujarnya.
Data menunjukkan bahwa pada triwulan I-2026 terjadi aliran modal keluar sebesar US$1,47 miliar, namun berbalik menjadi arus masuk sebesar US$7,98 miliar pada triwulan II-2026. Perry menambahkan bahwa BI berkomitmen menanggung tambahan beban remunerasi pemerintah yang timbul akibat penyesuaian suku bunga SBN, sebagai bentuk win-win solution. "Semua kenaikan suku bunga akan kami tanggung dan kami tingkatkan remunerasi pemerintah, jadi win-win solution," kata Perry.
Koordinasi juga diperkuat dalam hal pengelolaan likuiditas pasar dan pengendalian inflasi. Perry menjelaskan bahwa harga global yang tinggi berpotensi mendorong inflasi domestik, sehingga sinergi fiskal dan moneter menjadi krusial. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Ke depan, efektivitas strategi penarikan modal asing melalui kenaikan imbal hasil akan sangat bergantung pada persepsi risiko global dan kebijakan bank sentral utama. Pertanyaannya, mampukah koordinasi BI dan pemerintah mempertahankan momentum penguatan rupiah di tengah tekanan eksternal yang belum mereda?



